Tampilkan postingan dengan label TUNISIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUNISIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2016

Tunisia Bangun 200Km Penghalang di Perbatasan Cegah ISIS

Tunisia bangun parit di sepanjang perbatasan dengan Libya. (Foto: Fredrick Naumann/Panos Picture)
Tunisia telah menyelesaikan pembangunan penghalang sepanjang 200 km di sepanjang perbatasan dengan Libya, beberapa bulan setelah serangan ISIS terhadap ibukota dan resor pantai yang menewaskan puluhan wisatawan.

Menteri Pertahanan Tunisia Farhat Horchani mengatakan kepada wartawan pada Sabtu (6/2), pembangunan proyek ditandai sebagai “hari penting” bagi Tunisia dalam perjuangannya melawan “terorisme”. Mi’raj Islamic News Agency (MINA) memberitakannya.

Dua serangan yang diklaim oleh kelompok Islamic State (ISIS/Daesh) tahun lalu menewaskan 59 wisatawan asing.

Para pejabat Tunisia mengatakan, para penyerang telah dilatih di Libya yang sarat dengan konflik dan negara tempat ISIS aktif.

“Tunisia mampu melawan terorisme dengan cara aktif dan efisien,” kata Horchani selama tur meninjau pembatas di perbatasan.

Penghalang yang dibangun berupa bank pasir dan parit berisi air, membentang sekitar 200km dari Ras Jedir di pantai Mediterania hingga Dhiba.

Pembatas itu mencakup sekitar setengah dari panjang perbatasan antara kedua negara tetangga.

Horchani mengatakan, fase kedua proyek ini akan mencakup memasang peralatan elektronik dengan bantuan Jerman dan Amerika Serikat.

Dia mengatakan, penghalang yang Tunisia namai “system of obstacles” itu telah terbukti efisien.

“Pada beberapa kesempatan kami telah menghentikan dan menangkap orang-orang yang mencoba menyelundupkan senjata,” katanya.

Sumber-sumber resmi memperkirakan, sebanyak 6.000 warga Tunisia telah melakukan perjalanan untuk berperang di Irak, Suriah dan Libya. Banyak yang memilih bergabung dengan kelompok bersenjata, termasuk ISIS.

Sabtu, 23 Januari 2016

Usai Kerusuhan 4 Hari, Kabinet Tunisia Rapat Darurat

Kerusuhan di Tunisia memprotes pemerintah karena tingginya angka pengangguran dan buruknya ekonomi. (dok. NanaCoker.com)
Perdana Menteri Tunisia Habib Essid mengadakan rapat kabinet darurat membahas gelombang protes dan kerusuhan karena tingginya angka pengangguran.

Rapat Sabtu (23/1) itu dilakukan sehari setelah pemerintah mengumumkan jam malam nasional usai terjadi kerusuhan selama empat hari. Mi’raj Islamic News Agency(MINA) memberitakannya.

"Rakyat harus mengerti bahwa kita bisa mencapai solusi, tapi ini memerlukan kesabaran yang besar dan sikap positif. Dan seperti yang saya katakan, banyak ideologi gelap yang mengambil keuntungan dari demonstrasi damai dan antusiasme para pemuda," kata Essid dalam konferensi pers.

"Banyak musuh yang tidak ingin Pemerintah atau rakyat Tunisia sukses. Mereka mencoba melemahkan proses demokrasi. Mereka melakukan semua yang bisa mengganggu keharmonisan demokrasi kita dan masa transisi bersejarah Tunisia yang telah terlihat. Transisi tidak bisa dihindari. Transisi tersebut dapat diubah," ujar Essid.

Dalam beberapa hari teakhir, ribuan orang yang tidak puas terhadap pemerintah telah turun ke jalan, menuntut adanya tindakan segera untuk mengatasi pengangguran dan kondisi ekonomi yang buruk.

Perdana Menteri juga berharap pemerintah bisa mengatasi korupsi, kemiskinan dan mengadakan peluang pekerjaan kepada hampir satu juta warga Tunisia yang menganggur.

Namun, Essid mengakui pemerintah tidak memiliki dana dan kemampuan untuk mengatasi isu ini dalam waktu singkat, sehingga situasi sangat sulit akan dialami oleh elit politik dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Presiden Francois Hollande mengatakan akan memberikan $ 1,1 miliar selama lima tahun untuk membantu Tunisia menjalani kesepakatan transisi menuju demokrasi.