Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR SANGGANA (11): MISTERI GADIS BURUAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR SANGGANA (11): MISTERI GADIS BURUAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Misteri Gadis Buruan 7: Perangkap Rumah Kayu

Ilustrasi Wulangkelam. (Foto: Amrita Rao/Abplive.in)


Pemuda berpakaian putih ini sudah mendapat tiga ekor ikan hasil tombakannya. Ia berwajah tampan berambut pendek. Kepalanya dibalut rapih dengan kain merah. Alis matanya tebal. Sabuknya kuning. Ia bernama Anadoyo. Di tangan kanannya tergenggam tombak bambu kecil. Tangan kirinya memegang keranjang ikan yang sudah terisi tiga ekor ikan ukuran sedang.

Anadoyo berhenti bekerja ketika ia mendengar suara derap rombongan kaki kuda mendekati sungai kecil itu. Tidak jauh dari sungai memang ada jalan cukup lebar. Anadoyo segera berkelebat naik ke pinggir sungai lalu bersembunyi di balik pohon.

Ternyata dugaan Anadoyo benar adanya. Dari ujung jalan muncul rombongan kuda yang ditunggangi oleh para lelaki yang sebagian besar berpenampilan sebagai prajurit dan sisanya berpakaian pendekar. Satu orang berpakaian lebih bagus dengan hiasan tubuh seperti pembesar kerajaan. Sepertinya orang itulah pemimpin rombongan. Jumlah mereka sekitar 30-an kuda.

Anadoyo secara diam-diam melesat pergi dari persembunyiannya. Kepergian Anadoyo membuat pemimpin rombongan menoleh memandang ke arah pohon yang tadi dipakai berlindung pemuda itu. Pemimpin rombongan merasakan kepergian Anadoyo walaupun tidak melihat sosoknya.

“Rupanya ada orang yang baru saja mengintai kita,” kata lelaki berambut putih panjang itu. Meski rambutnya putih semua, tapi usianya baru 48 tahun. Ada pedang berwarangka bagus menggantung di pinggang kirinya. Ia adalah Rembung Seta yang berpangkat sebagai Panglima Kerajaan Seringgis.

“Apakah harus kami kejar, Panglima?” tanya pemuda yang berpakaian semaunya, sehingga terlihat sangat tidak rapih. Namanya Batikuma. Ia membawa senjata berupa parang.

“Tidak usah, sepertinya ia sudah ada di sini sebelum kita tiba,” kata Rembung Seta.

Anadoyo terus berkelebat cepat hingga berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat dari sebuah bangunan kayu yang besar. Bangunan itu besar karena luas. Bila dilihat dari langit, maka akan terlihat bangunan kayu itu berbentuk seperti gelang besar yang di tengah-tengahnya tanah kosong yang cukup luas. Bangunan unik itu memiliki banyak pintu yang semuanya tertutup. Jarak antarpintu cukup berjauhan. Setiap pintu memiliki tulisan. Seperti halnya pintu di depan Anadoyo yang bertuliskan “pintu damai”.

Anadoyo lebih duluh menengok ke belakang, khawatir jika ada yang melihatnya. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Anadoyo menendang bagian bawah pintu. Pintu itu pun terbuka. Anadoyo segera masuk dan menutup kembali pintunya. 

Kini Anadoyo berada di sebuah lorong yang cukup lebar. Namun, Anadoyo tidak berjalan biasa, langkahnya melakukan pola khusus, karena memang demikian syarat untuk berjalan di lorong itu jika tak mau celaka.

Sekeluar dari lorong, Anadoyo berjalan menyusuri koridor pinggir lapangan di tegah bangunan itu. Koridor itu jalurnya pun melingkar sepanjang pinggir lapangan. Di sisi kiri adalah dinding papan tebal yang pada jarak tertentu memiliki pintu yang tertutup. Di sisi kanan adalah tanah kosong.

Tok tok tok!

Anadoyo mengetuk sebuah pintu ketika dia berhenti.

“Masuklah!” suruh seseorang yang berada di dalam ruangan.

Pintu dibuka dari dalam. Anadoyo melangkah masuk. Di ruangan itu hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan ditengahi oleh sebuah meja kayu. Dinding ruangan yang tebal bercorak kotak-kotak dan di sisi lain ada pintu lain yang tertutup. Di ruangan itu duduk dua lelaki.

Lelaki pertama sudah tua berambut panjang terurai. Jenggotnya yang masih hitam, panjangnya sedada. Matanya agak sipit lagi cekung. Pakaiannya hijau dilapisi jubah putih tipis transparan. Di pangkuannya bersandar sebuah tongkat panjang setebal kelingking tangan berwarna merah. Ia tidak lain adalah Robenta yang bergelar Pendekar Tongkat Merah, salah seorang murid tokoh sakti bernama Dewi Mata Hati. Robenta adalah tamu di tempat itu.

Orang kedua adalah seorang lelaki separuh baya berkumis melintang dan berjenggot model jenggot kambing. Berpakaian putih yang memiliki tepian warna merah. Sabuk pakaiannya yang berwarna cokelat dihiasi logam-logam pipih bulat. Rambutnya yang sepunggung diikat dengan kain merah. Ia bernama Lembu Anobrak, pemilik bangunan kayu itu.

“Ada apa, Anadoyo?” tanya Lembu Anobrak yang tadi membukakan pintu.

“Aku melihat ada pasukan prajurit berkuda di daerah sungai. Aku khawatir mereka adalah prajurit-prajurit Seringgis,” jawab Anadoyo.

“Apa warna pakaian prajuritnya?” tanya Robenta.

“Prajurit biasa menggunakan rompi biru dan lainnya berpakaian pendekar,” jawab Anadoyo.

“Benar, mereka prajurit-prajurit Seringgis. Mereka sudah tahu, kita harus berangkat sekarang juga ke tempat guruku,” kata Robenta.

“Aku tidak ikut. Aku harus menjaga rumahku agar tidak dirusak orang asing,” kata Lembu Anobrak. “Ikannya kau simpankan saja untukku, Anadoyo. Kau temani Robenta.”

Anadoyo hanya mengangguk. Robenta pun berdiri. Lembu Anobrak ikut bangun.

“Apakah kau akan baik-baik saja bila para prajurit itu menyerbu tempat ini?” tanya Robenta.

“Hahaha! Kau mulai meragukanku, Robenta,” kata Lembu Anobrak yang didahului dengan tawa kecilnya dan diikuti oleh tawa Robenta.

Mereka keluar. Anadoyo pergi ke arah lain membawa ikannya. Sementara kedua orang tua itu pergi masuk ke sebuah ruangan lain yang cukup besar.

Di sudut ruangan terdapat sebuah pembaringan kayu jati berrtilam empuk dengan kelambu transparan berwarna merah. Salah satu dinding dilapisi tirai hijau tebal dan besar berhias sulaman perak bermotif kembang-kembang. Ada meja kayu bundar yang dikelilingi empat kursi. Lantai ruangan dibuat dari anyaman kulit bambu.

“Wulangkelam!” panggil Robenta sambil duduk di kursi.

Sebentar kemudian, tirai hijau disingkap dari baliknya. Dari balik tirai itu keluar seorang wanita muda yang kemudian mendatangi Robenta dengan kepala menunduk, seolah ingin menyembunyikan wajahnya yang sebagian sudah tertutupi oleh rambut panjangnya yang terurai lepas. Ia mengenakan pakaian kuning yang dilapisi jubah hijau kecil.

Akhirnya wanita itu mengangkat wajahnya. Tampaklah wajah putih manis dengan bentuk mata agak lebar berbulu lentik. Mata itulah yang memiliki peran besar mempercantik wajah bulatnya. Wajahnya seperti gadis Hindi. Ialah Wulangkelam.

“Ada apa, Ayahanda?” tanya Wulangkelam.

“Pasukan Seringgis sepertinya sudah tahu keberadaanmu. Siapkan apa-apa yang mau kau bawa,” kata Robenta yang disebut “Ayahanda” oleh Wulangkelam.

Wulangkelam adalah anak tunggal Robenta yang hilang 17 tahun yang lalu. Berkat bantuan Lembu Anobrak, Wulangkelam dapat terawat baik di tempat itu. Dan Robenta tahu tentang keberadaan anaknya tersebut sejak sebulan yang lalu dari Lembu Anobrak sendiri. Adapun orang yang tahu bahwa Wulangkelam adalah anak dari Robenta hanya beberapa orang saja.

Wulangkelam segera masuk ke balik tirai hijau. Sebentar kemudian ia kembali keluar tanpa membawa apa-apa, kecuali seuntai kalung emas di lehernya yang berbandul bintang bermata tujuh.

“Ayo kita pergi, Ayahanda!” ajak Wulangkelam.

Ketiganya pun beranjak keluar. Dari arah lain muncul Anadoyo yang sudah rapih dengan membawa senjata berupa tombak besi pendek.

“Anadoyo, bawa Robenta lewat jalan bawah!” perintah Lembu Anobrak.

“Mari,” ajak Anadoyo lalu berjalan duluan menuju tengah lapangan.

Robenta dan Wulangkelam mengikuti Anadoyo. Sementara Lembu Anobrak tetap berdiri di tempatnya, hanya mengikuti kepergian mereka dengan pandangan mata.

Setibanya di tengah lapangan, Anadoyo membuka sebuah pintu yang tertutupi oleh lapisan tanah dan rumput. Maka terlihatlah sebuah lubang gelap dan sebuah tangga batu menuju ke bawah. Robenta turun lebih dulu yang kemudian disusul oleh Wulangkelam dan Anadoyo. Si pemuda menyalakan sebuah suluh yang sudah tersedia di dinding lorong.

Seperginya mereka, Lembu Anobrak melangkah menuju pintu keluar. Namun, ketika pintu itu ia buka, betapa terkejutnya lelaki itu. Ternyata kediaman besarnya sudah mendapat pengepungan dari prajurit bersenjata tombak dan panah, lengkap dengan perisainya. Ada pula prajurit-prajurit berkuda. Para prajurit itu berbaris mengurung kediaman besar Lembu Anobrak. Tidak disangkanya prajurit-prajurit yang dikabarkan oleh Anadoyo itu sedemikian cepat datang mengepung.

Ternyata, jumlah praurit yang mengepung bukan 30-an sebagaimana yang dilihat Anadoyo di jalan pinggir sungai tadi, tetapi lebih dari seratus prajurit.

Lembu Anobrak langsung bisa mengenali siapa pemimpin dari pasukan itu. Karenanya, ia menutup pintu dan melangkah mendekati kuda pemimpin pasukan itu, yaitu Panglima Rembung Seta.

“Kau yang bernama Lembu Anobrak?” tanya Panglima Rembung Seta.

“Rupanya aku cukup terkenal di kerajaanmu, orang asing. Siapa kau?” Lembu Anobrak balik bertanya.

“Aku Panglima Rembung Seta. Dari lidah mata-mata kami, kau telah menyembunyikan buronan kerajaan!” kata Panglima Rembung Seta.

“Siapakah mata-matamu itu? Apakah dia pernah masuk ke kediamanku sehingga bisa menyatakan aku menyembunyikan buruan kerajaan?” tanya Lembu Anobrak dengan tenang.

“Kakek Santet Tembus Pandang,” jawab Lembu Anobrak.

“Oh, rupanya tukang santet itu. Sepertinya mata-matamu itu telah rusak ilmu santetnya,” kata Lembu Anobrak.

“Lembuh Anobrak, aku minta kau menyerahkan penjahat kerajaan, jangan sampai para prajuritku merusak kediamanmu!” seru Panglima Rembung Seta.

“Jangan berani-berani kau memerintahkan prajuritmu menggeledah rumah bagusku. Jika kau lakukan, aku tidak bertanggungjawab dengan nyawa mereka!” kata Lembu Anobrak.

“Kau tidak bisa menakutiku. Sikapmu jelas menunjukkan bahwa kau menyembunyikan mereka. Aku beri kesempatan sekali lagi, serahkan anak Robenta itu!”

“Maaf, aku tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti kalian. Aku mau pergi dan aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa para prajuritmu,” kata Lembu Anobrak.

Wesleps!

Lembu Anobrak berkelebat mundur lalu lenyap begitu saja di udara.

“Kesaktiannya tinggi juga,” membatin Panglima Rembung Seta. Lalu serunya kepada pasukannya, “Geledah tempat ini!”

Maka, secara serentak para prajurit tombak bergerak dari segala penjuru. Prajurit panah tetap pada posisinya, bersiap dengan anak panah telah terpasang di busur. Sebagian prajurit berkuda melompat dari punggung kudanya dan berkelebat menuju atap bangunan kayu itu.

Brak! Brak! Babrak! Brak...!

Mendobrak pintu rumah orang adalah perbuatan jahat. Akibatnya....

Seseset...!

“Aaak! Akh! Aaa...!”

Prajurit-prajurit terdepan yang melakukan pendobrakan pintu, semuanya harus tewas oleh serangan-serangan anak panah dari langit-langit ruangan atau lorong yang mereka dobrak. Serangan anak-anak panah itu membuat para prajurit berhenti maju. Panglima Rembung terkejut dibuatnya.

Mencoba masuk ke rumah orang lewat atap pun bukanlah cara yang baik. Akibatnya ....

Tresesetseset...!

“Ak! Akh! Akk...!”

Begitu kaki-kaki para prajurit berkuda itu menyentuh atap, ribuan jarum-jarum beracun yang nyaris tidak terlihat berlesatan dari dalam atap. Hanya satu dua tiga orang yang mampu menghindar lebih cepat dan kembali turun ke tanah.

“Keparat!” teriak Rembung Seta geram melihat kematian para prajuritnya. Lalu teriaknya kepada prajurit lainnya, “Apa yang kalian lakukan? Ayo masuk!”

Mau tidak mau, para prajurit yang kini dihinggapi rasa was-was itu bergerak perlawan penuh kewaspadaan. Mereka bergerak memasuki pintu-pintu yang sudah terbuka oleh dobrakan pertama.

Tseb! Creceb! Bset! Blaar!

Baru saja para prajurit itu menginjakkan langkah pertama melewati pintu, berbagai insiden maut punt terjadi.
Ada tombak-tombak miring yang keluar dari dalam dan menusuk orang-orang yang ada di ambang pintu. Ada tombak-tombak yang keluar dari dalam lantai melesat miring ke atas, menusuk perut prajurit dari arah bawah. Ada jarum-jarum beracun yang menghujani dari atas kepala. Dan ada juga yang terjadi ledakan.
Namun, satu prajurit berhasil masuk tanpa mendapat serangan. Dia terus masuk hingga tembus ke pinggir lapangan dalam bangunan. Namun, ia menjadi bingung harus ke mana dulu.

“Mundur!” perintah Rembung Seta.

Para prajurit yang belum mencoba masuk ke dalam segera bergerak mundur.

“Sugoroh, hancurkan rumah besar ini!” perintah Rembung Seta.

Seorang penunggang kuda berpakaian pendekar berwarna merah hitam bergerak memajukan kudanya setelah mendapat perintah itu.

Lalu, pendekar yang bernama Sugoroh itu menghentakkan lengan kanannya dengan jari-jari mengepal.

Wesss!

Serangkum angin keras menderu.

Bdroakr!

Angin yang menerpa sebagian bangunan rumah kayu itu menimbulkan ledakan pengrusak.

Sresseret...!

Namun, dari ledakan itu, puluhan anak panah justeru muncul berlesatan dari dalam bangunan dan menyerang Panglima Rembung Seta dan sebagian prajurit berkudanya. Maka, serentak Rembung Seta dan para prajurit berkuda itu melompat setinggi-tingginya menghindari panah-panah itu. Akibatnya, kuda-kuda mereka harus dikorbankan nyawanya terkena panah. Beberapa prajurit yang tidak sigap, terpaksa tewas pula.

“Benar-benar keparat rumah ini!” maki Rembung Seta.

Panglima Rembung Seta terdiam sejenak berpikir.

Sementara prajurit yang awalnya berhasil masuk, juga harus tewas ketika mendobrak sebuah pintu kamar. Ia tewas dihantam bola berduri yang melesat dari dalam kamar.

“Apa yang harus kita lakukan, Panglima?” tanya Sugoroh.

“Rumah ini penuh dengan maut. Kita benar-benar tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Aku tidak ingin semua prajuritku mati hanya untuk menaklukkan rumah sial ini,” kata Rembung Seta.

Seorang prajurit berlari datang mendekat kepada Panglima Rembung Seta.

“Ada apa?” tanya Rembung Seta.

“Seorang prajurit berhasil masuk lewat pintu yang tidak memiliki jebakan, Tuanku!” lapor prajurit itu.

“Sugoroh, pimpin prajuritmu menggeledah rumah ini lewat pintu aman itu!” perintah Rembung Seta.

“Semua prajurit berkuda, ikut aku!” seru Sugoroh kepada para prajurit berkuda. Lalu katanya kepada prajurit yang melapor tadi, “Tunjukkan pintunya prajurit!”

Mereka bergerak dengan meninggalkan kudanya masing-masing di tepat.

Pintu aman yang dimaksud prajurit itu adalah sebuah pintu yang memiliki tulisan di atasnya “lewat pintu lain”. Pintu itu adalah pintu sebuah ruangan yang tertata rapih dengan enam kursi dan satu meja kayu bundar. Di dinding kayu ruangan terdapat beberapa buah benda pajangan.

Meskipun dikatakan aman, tetapi mereka masuk dengan penuh kehati-hatian. Hingga mereka tembus ke koridor pinggir lapangan tengah bangunan yang luas. Sugoroh memerintahkan kepada anak buahnya yang semuanya pendekar untuk menyebar menggeledah. Umumnya para prajurit itu adalah para pendekar kelas menengah yang masih bisa diandalkan.

Setiap pintu yang ada harus mereka dobrak. Akibatnya, muncul serangan berupa senjata panah, jarum beracun, tombak, bola berduri dan senjata-senjata lain yang bisa membunuh. Sebagai orang yang mengaku pendekar, pada umumnya mereka mampu mengelaki serangan senjata-senjata itu. Namun, tetap saja ada yang tidak sigap, sehingga harus tewas.

Ada yang berani masuk dan menggeledah ke dalam ruangan. Mendadak pintu yang tadi didobraknya tertutup oleh pintu terali besi yang turun dari atas. Selanjutnya si pendekar diserang ramai-ramai oleh berbagai senjata. Hingga orang itu sudah tewas pun, serangan senjata masih berlesatan, seolah persediaan senjata rahasia tidak habis-habis.

Ada juga prajurit pendekar yang hanya melihat dalam ruangan dari luar pintu untuk mencari aman.

Sementara itu....

Anadoyo yang menuntun Robenta dan Wulangkelam lewat jalur bawah tanah, akhirnya keluar lewat akar sebuah pohon besar yang tertutupi oleh ilalang liar. Selanjutnya mereka segera pergi menuju selatan.

Namun, baru belasan tombak jauhnya mereka meninggalkan lubang, tiba-tiba....
 
“Berhenti!” seru seseorang dari belakang mereka.

Robenta dan lainnya terpaksa berhenti dan berpaling ke belakang. Tujuh orang prajurit berompi biru bersenjatakan tombak datang mendekat.

“Prajurit Seringgis keparat!” gusar Robenta yang teringat dendam masa lalunya.

Tanpa hitung-hitung lagi, Robenta bergerak maju. Para prajurit itu terkejut melihat Robenta langsung menyerang.

Drak! Dak! Baks! Bugk!

Tongkat merah Robenta mengamuk memecahkan kepala, meremukkan tulang punggung, meremukkan tulang dada dan lainnya. Tameng yang dimiliki para prajurit itu pun tidak mampu membendung tongkat maut Robenta. Dalam satu waktu singkat, ketujuh prajurit itu tewas dengan tulang belulang remuk berantakan.

“Kenapa Ayahanda begitu marah, padahal mereka belum melakukan apa-apa?” tanya Wulangkelam.

“Kematian ibumu di tangan prajurit-prajurit Seringgis tidak akan pernah aku lupakan,” jawab Robenta. “Kita harus cepat sampai ke kediaman guruku.”

Tanpa mereka ketahui, masih ada satu prajurit yang tidak muncul dari persembunyiannya yang jaraknya terjaga. Buru-buru prajurit itu berlari pergi setelah Robenta dan kedua pemuda itu menghilang dari pandangan.

“Sebegitu pentingkah kalung pusaka itu bagi Raja Seringgis, Paman?” tanya Anadoyo.

“Sangat penting, karena menyangkut silsilah keluarga kerajaan dan kitab pusaka milik raja pertama. Kita itu memuat beberapa ilmu yang bisa menandingi ilmu-ilmu tinggkat tinggi yang pernah dimiliki oleh jajaran tokoh-tokoh tua persilatan.”

“Ada yang aku herankan. Kenapa kalung pusaka itu hanya bisa dibuka oleh guru Paman?” tanya Anadoyo.
“Sebab guruku adalah pencipta kalung pusaka yang dipakai Wulangkelam.”

“Itu berarti guru Paman menguasai ilmu dalam kitab pusaka kerajaan itu?” terka Anadoyo.

“Aku tidak tahu banyak masalah ilmu di dalam kitab itu. Di hari meninggalnya Raja Seringgis Dawakutra, selir termuda Yang Mulia memintaku untuk menyelamatkan kalung itu.”

“Kapan kita akan tiba, Ayahanda?” tanya Wulangkelam.

“Kalian siap berlari cepat?” Robenta balik bertanya.

“Tidak masalah,” kata Anadoyo.

“Ayahanda akan melihat setinggi ilmu lariku,” kata Wulangkelam yang baru kali ini keluar dari kediaman Lembu Anobrak.

“Mulai!” seru Robenta memberi tanda.

Dengan bersamaan, ketiganya bergerak cepat ke depan. Ketiganya berlari laksana tidak menjejak bumi karena demikian cepatnya. Sebagai tokoh tua dan murid Dewi Mata Hati, Robenta jelas lebih cepat dari kedua anak muda itu. Namun, Robenta tidak perlu meninggalkan keduanya hanya karena ingin cepat-cepatan.

Kembali di kediaman Lembu Anobrak.

Penggeledahan sudah selesai dilakukan. Panglima Rembung Seta tetap menunggu hasilnya.

Dari dalam rumah, keluar Sugoroh dan dua orang anak buahnya. Dari 14 orang yang masuk, hanya tiga orang yang berhasil selamat dari jebakan-jebakan yang memenuhi rumah besar tersebut.

“Mana anak buahmu yang lain?” tanya Panglima Rembung Seta.

“Semuanya tewas dan tidak ada siapa-siapa di rumah ini, Panglima,” jawab Sugoroh.

“Cuih! Hanya karena sebuah rumah kosong aku harus kehilangan banyak prajurit!” geram Rembung Seta setelah sebelumnya meludah.

“Sekarang kita harus mencari ke mana, Panglima?” tanya Sugoroh.

Panglima Rembung Seta terdiam. Ia merasa dipermainkan. Ada sedikit sesal karena tidak mendengar kata-kata si pemilik rumah.

Di saat seperti itu, seorang prajurit datang berlari tergesa-gesa. Ia langsung menjura hormat setibanya di depan Panglima.

“Ada apa?” tanya Panglima Rembung Seta.

“Tujuh prajurit kita dibunuh dalam waktu sekejap, Tuanku!” lapor prajurit itu.

“Siapa yang melakukannya?” tanya Panglima cepat.

“Hamba tidak tahu, Tuanku. Mereka tiga orang. Satu orang bertongkat merah, satu pemuda dan satu gadis cantik berpakaian kuning hijau bermata lebar,” jelas si prajurit.

“Itu anak Robenta yang kita cari. Ke mana mereka pergi?”

“Ke arah selatan, Tuanku.”

“Kita harus cepat mengejar ke selatan!” kata Panglima Rembung Seta.

(Bersambung: 

Jumat, 01 April 2016

Misteri Gadis Buruan 6: Perburuan Putri di Gunung Babi

Anjing-anjing pemburu. 


Di Gunung Babi, Kakek Rapetucap harus terjebak pula. Ia tidak bisa keluar dari kawasan gunung tersebut. Bila Panglima Iblis tidak meningkatkan kekuatan pagar gaibnya di sekeliling Gunung Babi, mungkin Kakek Rapetucap masih berpeluang bisa menembus pagar gaib seorang diri.

Akhirnya Kakek Rapetucap memutuskan tinggal di gunung itu sambil menjaga keselamatan penerus Raja Jikrasowo dan berusaha meningkatkan tenaga dalamnya agar bisa menerobos pagar gaib yang dipasang Panglima Iblis.

Sementara itu, pagi hingga sore, tanpa kenal lelah, anjing-anjing buas dilepas untuk memburu Kakek Rapetucap, Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin. Berulang kali jejak mereka tercium dan berulang kali pula mereka dapat lolos dari serangan anjing-anjing. Kakek Rapetucap tidak bisa berbuat banyak, karena perburuan dipimpin oleh dua orang sakti, yaitu Panglima Setan dan Si Tombak Maut.

Perburuan yang begitu ketat setiap harinya membuat ketiga buronan tidak bisa leluasa bergerak. Akibatnya, mereka pun harus seringkali kelaparan dan kehausan. Beberapa kali ular gua pun menjadi santapan lezat bagi mereka. Dedaunan menjadi menu hari-hari, sehingga kotoran mereka pun menyerupai kotoran hewan. Sungguh kehidupan sulit yang harus mereka lalui.

Tidak jarang persembunyian mereka diketahui, tapi mereka selalu dapat meloloskan diri dan bersembunyi lagi di tempat lain.

Dengan adanya Panglima Setan dan Si Tombak Maut yang memimpin perburuan, Kakek Rapetucap hanya bisa menolong Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin dalam hal meloloskan diri.

Terkadang pula perburuan berhenti beberapa hari ketika para prajurit mendapat tugas lain yang lebih diutamakan. Hal itu bisa memberi sedikit waktu aman bagi Permaisuri dan Putri. Perburuan terus berlangsung selama dua tahun. Dalam waktu itu, Kakek Rapetucap dapat meningkatkan ilmu tenaga dalamnya.

Dua tahun tujuh bulan, barulah Kakek Rapetucap mampu menembus pagar gaib milik Panglima Iblis untuk keluar dari Gunung Babi. Akan tetapi, Kakek Rapetucap tidak bisa keluar jika harus membawa orang lain bersamanya.

“Kau harus mencari tokoh sakti yang bisa mengeluarkan kami dari penjara gunung ini, Rapetucap,” kata Permaisuri Widiarsih sebelum lelaki tua setia itu pergi.

“Memang hamba harus mencari kotoh satki yang mengeluarkan Yang Mulia dari sini,” kata Kakek Rapetucap dengan kata-kata yang cepat dan rapat, sehingga ada kata yang salah ucap. “Namun, ini sama saja melepaskan Yang Mulia untuk dimakan oleh anjing-anjing pemburu itu.”

“Jika kau tetap di sini, kita akan tetap menjadi buruan selama bertahun-tahun berikutnya. Jika kau tetap di sini, hanya ada dua kemungkinan yang tiada berarti, terus diburu atau akhirnya mati juga. Jika kau pergi, ada satu kesempatan yang bisa kami harapkan. Pergilah, Rapetucap. Aku bisa berjaga diri dengan bantuan ilmu yang kau bekalkan,” ujar Permaisuri Widiarsih.

Kakek Rapetucap diam menimbang-nimbang.

“Harus ada pengorbanan, Rapetucap,” kata Permaisuri.

“Baiklah, Yang Lumia,” kata Kakek Rapetucap akhirnya.

Dengan berat hati Kakek Rapetucap terpaksa meninggalkan Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin.
Bagi Permaisuri Widiarsih, ditinggal tidaklah terlalu mencemaskannya, selama ia bisa bersembunyi dengan aman. Terlebih Kakek Rapetucap menurunkan dua macam ilmu kesaktian sebagai bekal jaga diri.

Pada suatu pagi. Setelah Raja Langgang Matri memerintah selama dua tahun tujuh bulan 15 hari, Panglima Setan datang menghadap.

“Lapor, Yang Mulia,” ucap Panglima Setan setelah menjura hormat kepada Raja Langgang Matri di aula utama istana. “Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin menghilang.”

“Bagaimana menurutmu, Perdana Menteri?” tanya Raja Langgang Matri kepada Panglima Iblis.

“Mereka pasti masih ada di Gunung Babi. Mereka bersembunyi dengan baik sehingga anjing-anjing tidak bisa mengendusnya. Lain halnya dengan Rapetucap. Kemungkinan dia sudah meningkatkan tenaga dalamnya sehingga bisa menembus pagar gaibku, tapi dia tidak bisa keluar bersama orang lain,” ujar Panglima Iblis selaku pemilik pagar gaib di Gunung Babi.

“Biarkan mereka merasa aman untuk beberapa saat. Hentikan perburuan sampai tempat harta itu ditemukan, tapi tetap tempatkan prajurit di sana!” perintah Raja Langgang Matri.

“Baik, Yang Mulia,” ucap Panglima Setan.

Maka, perburuan terhadap Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin dihentikan untuk sementara.

Selama lima bulan lebih Kakek Rapetucap pergi dan belum kembali kepada Permaisuri Widiarsih.
Di suatu siang, tiga tahun dua hari setelah Raja Langgang Matri berkuasa, Menteri Kehakiman Galakonar menghadap sang Raja di taman istana. Saat itu Raja Langgang Matri bersama dua orang selirnya.

Menteri Kehakiman Galakonar adalah sosok lelaki bertubuh tinggi besar berotot. Ia memiliki wajah sangar dengan modal hidung besar. Usianya masih tergolong muda, 33 tahun. Namun, kesaktian dan kesetiaannya kepada Raja Langgang Matri membuatnya ditempatkan di posisi yang strategis untuk menjaga kelanggengan kekuasaan tuannya. Di pinggangnya tampak terlilit rantai berwarna perak. Ia ditugaskan khusus untuk mencari tahu lokasi tempat penyimpanan harta kerajaan.

“Ada apa, Galakonar?” tanya Raja Langgang Matri.

“Hamba berhasil menemukan seorang keluarga dari salah seorang yang mengurus makanan Raja Jikrasowo. Ia pernah mendengar tentang tempat harta kerajaan itu,” kata Menteri Galakonar.

“Bagus!” seru Raja Langgang Matri sambil bangkit berdiri dengan wajah sumringah. “Mana orang itu, Galakonar?”

“Menunggu di luar taman, Yang Mulia.”

Raja Langgang Matri lalu melangkah pergi yang segera diikuti oleh kedua selirnya dan para prajurit pribadi raja. Galakonar pun mengikuti di belakang.

Sekeluarnya dari taman istana, Raja Langgang Matri melihat seorang pemuda berpakaian desa berdiri menunggu di sisi prajurit penjaga pintu taman. Pemuda itu segera menjura hormat.

“Sembah hamba, Yang Mulia,” ucap pemuda itu.

“Inikah orangnya, Galakonar?” tanya Raja Langgang Matri.

“Benar, Yang Mulia,” jawab Galakonar.

“Siapa namamu?” tanya Raja Langgang Matri kepada pemuda yang kini berlutut di hadapannya.
“Juara, Yang Mulia,” jawab pemuda itu.

“Benar kau mengetahui tentang tempat penyimpanan harta kerajaan?” tanya Raja Langgang Matri.
“Ibuku bekerja di dapur istana. Dia meninggal karena sakit. Sebelum meninggal, ia menceritakan sebuah rahasia dari istana. Ibuku mengatakan bahwa harta Kerajaan Kubaban disimpan di bawah rumah Mahajenderal Kularopak,” ujar Juara.

“Bah! Keparat bangsat Kularopak!” maki Raja Langgang Matri marah mendengar hal itu, membuat Juara jadi ketakutan dan gemetar. Lalu katanya kepada Juara, “Bila kata-katamu benar, kau akan aku beri hadiah besar. Namun, jika itu dusta, kepalamu akan dipenggal.”

“Hah!” kejut Juara lalu buru-buru bersujud menyembah. “Ampun, Yang Mulia! Hamba jangan dipenggal, hamba jangan dipenggal, hamba tidak bersalah!”

“Prajurit, penjarakan orang ini!” perintah Raja Langgang Matri.

“Baik, Yang Mulia!” jawab dua prajurit penjaga pintu  taman.

“Yang Mulia, jangan penjarakan aku!” teriak Juara saat kedua tangannya dicekal dan ditarik pergi oleh dua orang prajurit.

“Galakonar, pimpin prajurit ke rumah Kularopak. Bongkar rumah itu hingga ke tanah-tanahnya!” perintah Raja Langgang Matri.

“Baik, Yang Mulia.”

“Beruntung kularopak sudah menjadi tulang belulang,” ucap Raja Langgang Matri lirih.

Mahajenderal Kularopak sendiri telah dibunuh tiga tahun yang lalu, tidak lama setelah Langgang Matri berkuasa. Demikian pula dengan seluruh anggota keluarga Kularopak, dibantai habis. Kini rumah Kularopak menjadi rumah kosong yang sudah rusak.

Sejak diketahuinya lokasi penyimpanan harta kerajaan, perburuan di Gunung Babi pun semakin digencarkan. Bahkan Raja Langgang Matri memerintahkan beberapa pendekar berkesaktian untuk membantu Panglima Setan dan Si Tombak Maut dalam memburu Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin.

Kali ini, perburuan dilakukan secara besar-besaran. Jumlah prajurit dan anjing pemburu pun dilipatgandakan jumlahnya.

Guk guk guk...!

Hampir di setiap sudut gunung terdapat anjing pemburu dan prajurit. Suara gonggongan yang tiada henti menjadi musik mengerikan. Banyaknya jumlah anjing yang dikerahkan membuat tiap jengkal tanah mendapat endusan penciuman para anjing.

Guk guk guk!

Ada seekor anjing yang mulanya berjalan biasa sambil mengendus-endus mencari jejak, tiba-tiba menggonggong keras sambil berlari kencang. Prajurit yang memegang tali lehernya terpaksa turut berlari mengikuti.

“Hoiii! Buruannya ketemu!” teriak prajurit itu sambil terus berlari.

Gonggongan anjing yang keras membuat anjing-anjing terdekat jadi ikut ke satu arah. Suasana menjadi sangat ribut. Dan ternyata, anjing-anjing itu menuju ke mulut sebuah gua yang sempit.

Betapa terkejutnya Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin saat mendengar ramainya suara gonggongan anjing dari luar gua. Setelah sekian lama suara-suara gonggongan menakutkan itu menghilang, kini tiba-tiba muncul tidak jauh dari tempat persembunyian itu.

“Bahaya! Kita tercium, anakku. Ayo cepat kita keluar!” kata Permaisuri Widiarsih lalu bergegas menarik tangan puterinya.

Ibu dan anak itu berlari cepat lebih ke dalam gua, meninggalkan apa yang mereka miliki. Ternyata gua sempit itu memiliki jalan tembus.

Teriakan-teriakan prajurit dan ramainya gonggongan anjing yang menandakan ada sesuatu, membuat Si Tombak Maut yang berada di sekitar tempat itu segera melesat menyusul.

Anjing-anjing dan para prajurit harus antri memasuki gua yang sempit. Namun bagi Si Tombak Maut yang adalah seorang lelaki berkepala botak, mampu menyusul ke depan ke dalam gua dengan kelihaian ilmu peringan tubuhnya.

Si Tombak Maut dan para prajurit berhenti senjenak ketika mereka menemukan sisa-sisa perapian dan makanan. Sementara para anjing yang terus menggonggong berusaha untuk terus berlari lebih ke dalam.

“Mereka baru saja pergi,” kata Si Tombak Maut yang di tangan kanannya tergenggam sebuah tombak pendek bermata dua. “Kejar!”

Meskipun jalan dalam gua gelap, tapi itu bukan hambatan bagi Si Tombak Maut dan para anjing. Justeru para prajurit yang kewalahan mengikuti gerak anjing-anjing pegangan mereka.

Permaisuri Widiarsih dan Putri Wilasin sudah berhasil keluar dari gua. Sementara gonggongan anjing-anjing kian dekat di belakang mereka. Permaisuri terus berlari dengan memegang tangan puterinya.

Guk guk guk!

Dari arah selatan muncul sekelompok anjing dan prajurit. Dari mulut gua tempat Permaisuri dan Putri keluar juga muncul para anjing yang mengejar, termasuk Si Tombak Maut. Pengejaran pun terjadi dari dua arah. Sementara itu, Permaisuri dan Putri harus berlari di tanah yang menanjak, membuat mereka melambat.

Wess! Bduar!

Permaisuri Widiarsih yang selama ini hanya terus berlari dan sembunyi, tiba-tiba mampu melesatkan satu sinar biru kecil dari telapak tangannya kepada para anjing terdekat darinya. Sinar itu meledakkan tanah yang mementalkan beberapa anjing terdepan sekaligus menewaskannya.

“Ibunda!” pekik Putri Wilasin ketika kakinya tersandung akar pohon yang membuatnya terjatuh.

“Cepat bangun!” seru Permaisuri Widiarsih sambil buru-buru menarik tubuh puterinya agar kembali berlari.

“Kita pasti mati, Ibunda!” ratap Putri Wilasin ketakutan sambil berusaha berlari lagi.

Press! Bdluar!

“Akh!”

Si Tombak Maut yang muncul di udara mengiblatkan sinar hijau melengkung dan menghancurkan tanah di dekat kaki Permaisuri Widiarsih dan puterinya. Akibatnya, ibu dan anak itu terpental dan jatuh keras tidak jauh dari bibir jurang. Serasa berpatahan tulang-tulang tubuh keduanya.

Seraya menahan sakit, Permaisuri Widiarsih berusaha bangun. Putri Wilasin tidak bisa lagi, ia hanya mengerang kesakitan. Permaisuri segera menggendong puterinya lalu berlari pincang. Namun, tidak ada jalan baginya selain sebuah jurang berbatu yang di bawahnya mengalir sungai berarus deras.

Permaisuri Widiarsih terpaksa berbalik, tapi gerombolan anjing sudah tinggal beberapa tombak lagi. Permaisuri berusaha melepaskan ilmu warisan Kakek Rapetucap, tapi tidak bisa. Itu akibat luka dalam yang dialami Permaisuri akibat serangan Si Tombak Maut tadi.

“Ibunda...!” jerit Putri Wilasin begitu ketakutan.

“Heaa!” pekik Si Tombak Maut seraya menyentilkan jari tengahnya.

Sest! Dzeb!

Satu sinar putih sebesar kepalan tangan melesat cepat masuk ke perut Permaisuri Widiarsih. Tidak sakit, tapi membuatnya tidak bisa bergerak sedikit pun.

“Aku tidak bisa bergerak,” ucapnya pelan tapi panik, membuat Putri Wilasin kian ketakutan.

“Ibunda... ibunda...!” jerit Putri Wilasin ketakutan  dan menangis kencang di punggung ibunya.
Permaisuri Widiarsih telah terkena ilmu Beku Tulang yang membuat seluruh persendian tidak bisa digerakkan sedikit pun.

“Wilasin, cepat lompat ke jurang!” teriak Permaisuri Widiarsih.

“Tapi, Ibunda,” ucap Putri Wilasin bingung.

Graugrk!

Dua anjing terdepan sudah melompat menerkam dan langsung menggigit kuat kedua kaki Permaisuri Widiarsih.

“Aaa...!” jerit Permaisuri Widiarsih panjang, lalu teriaknya kepada puterinya, “Wilasin! Cepat lompat, selamatkan dirimu! Cepat...! Ak...!”

Graugkr!

“Ibunda...!” jerit Putri Wilasin dan refleks melompat dari punggung ibunya ketika ada dua anjing lagi melompat menerkam badan ibunya.

Tubuh Putri Wilasin langsung meluncur ke arus sungai. Sementara para anjing berebutan menggerogoti tubuh Permaisuri Widiarsih. Sungguh pamandangan yang mengerikan. Demikianlah akhir nasib Permaisuri, tewas di mulut sekawanan anjing.

Si Tombak Maut segera melihat kepada jatuhnya tubuh Putri Wilasin. Jbur! Tubuh mungil itu langsung hilang di bawa arus sungai.

“Yang Mulia Permaisuri!” teriak seseorang tiba-tiba dari sisi lain.

Sebelum Si Tombak Maut dan para prajurit melihat siapa yang berteriak, sudah berkelebat cepat sosok berpakaian merah.

Beg! Dak! Degk!

Aik! Auk! Graik! Kaik!

Sosok berpakaian merah yang tidak lain adalah Kakek Rapetucap, mengamuk memukul tendang anjing-anjing yang mengerumuni mayat Permaisuri Widiarsih. Anjing-anjing itu memekik-mekik untuk yang terakhir kalinya. Mereka berpentalan dan jatuh tidak bangun-bangun lagi.

“Kau pasti Kakek Rapetucap. Bagus, akhirnya kau muncul!” seru Si Tombak Maut.

“Tetua Agung! Cari Putri Wilasin dan bawa pergi!” teriak Kakek Rapetucap kepada seseorang yang bertengger di dahan pohon pinggir jurang.

Orang yang ada di dahan pohon adalah seorang lelaki tua berambut putih panjang sebahu dan berjenggot putih sejengkal. Cekung sepasang matanya. Pakaian putihnya dilapisi jubah hijau muda tapi lusuh. Usianya 70 tahun. Ia adalah seorang tokoh sakti aliran putih yang bernama Agung Huladarya.

Sepasang mata tuanya yang tajam dapat menangkap keberadaan sesuatu yang hanyut di sungai di bawah sana. Walaupun orang tua itu tidak pernah bertemu dengan Putri Wilasin, tapi ia sangat yakin, orang yang hanyut di bawah sana adalah Putri Wilasin. Tanpa pikir panjang, kakek itu melesat cepat menukik tajam ke sungai.

Duel terjadi antara Si Tombak Maut dengan Kakek Rapetucap. Pertarungan tampak berjalan seimbang. Para prajurit dan para anjing tidak berani mendekati area pertarungan itu.

“Aku bantu kau, Tombak Maut!” seru Panglima Setan yang baru tiba di area itu.

Wesss!

Serangkum angin keras membahayakan dilepaskan ke arah Si Tombak Maut dan Panglima Setan oleh Kakek Rapetucap yang memanggul mayat Permaisuri Widiarsih yang berlumuran darah. Kedua yang disasar cepat mencelat tinggi-tinggi menghindari angin maut itu. Akibatnya, angin itu menerbangkan para prajurit dan anjing-anjing yang terterpa.


Setelah lepaskan angin, Kakek Rapetucap cepat berkelebat lalu menghilang begitu saja. Orang tua itu pergi menembus pagar gaib yang menyelimuti gunung itu. Menembus pagar gaib milik Panglima Iblis dengan membawa tubuh lain telah dipelajari oleh Kakek Rapetucap dari Agung Huladarya.