 |
| Petani Ethiopia menggunakan peralatan tradisional membajak tanah. (foto: Helge Bendl) |
Oleh: Rudi Hendrik,
redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Dua tahun lalu, di pinggiran Chitu di wilayah Oromia, warga Ethiopia gelisah ketika pejabat lokal mengatakan kepada Chamara
Mamoye bahwa kemungkinan lahan pertaniannya akan dibangun ketika desa
kecil itu diperluas.
Ternyata rencana itu kini terealisasi dengan mengorbankan lahan-lahan
milik para petani yang dirampas secara tidak adil.
"Kehilangan tanah akan menjadi masalah besar bagi saya, tetapi jika
pemerintah memaksa kami, ka
mi tidak bisa berbuat apa-apa," kata ayah lima anak itu saat di luar pekarangannya.
Bulan lalu, Chamara (45), melihat
mayat dua orang demonstran di
jalan tergeletak setelah
demonstrasi mengguncang Chito. Sudah 140 orang yang dibunuh
oleh pasukan keamanan selama protes di wilayah luas itu yang dipicu
oleh tudingan ketidakadilan dan marjinalisasi yang dilakukan oleh kelompok etnis terbesar di negara
itu, yaitu Oromo.
Didukung oleh aktivis media sosial yang berbasis di Amerika Serikat, gerakan protes bersatu menentang rencana pemerintah untuk mengintegrasikan
ibukota, Addis Ababa, dengan kota-kota di Oromo.
Setelah berminggu-minggu
aksi protes, koalisi yang
berkuasa di wilayah Oromia mengatakan pekan lalu bahwa ia membatalkan rencana
ekspansi.
Namun, bagaimana pun, protes telah berlangsung, akar kegelisahan dan kemarahan di Oromia
tetap tinggi. Didorong ketidakpuasan terhadap korupsi,
penyelewengan administratif dan jawaban yang tidak memuaskan atas investasi yang memicu perbedaan pendapat.
Tambal sulam
keluhan menciptakan tantangan mendasar bagi sebuah pemerintahan otoriter yang
bertujuan ingin cepat mengubah Ethiopia dari masyarakat agraris menjadi
industri pembangkit tenaga listrik. Dan ketidakpuasan telah menjadi isu nasional.
Seyoum Teshome, seorang dosen di Universitas Ambo mengatakan, ekspansi perkotaan menyebabkan bentrokan di
seluruh negeri ketika investor,
pejabat dan petani saling melindungi
kepentingannya.
"Penduduk desa telah menanyakan layanan dasar dan segera
memfasilitasi untuk menjual lahan
pertanian mereka di tingkat pasar sebelum diambil alih dengan kompensasi yang rendah," katanya.
Seyoum mengatakan, karena semua
tanah adalah milik negara di Ethiopia, rumah secara cepat dibangun di tepi kota tanpa izin resmi, untuk
memberikan harga bidang tanah. Investor mungkin menyuap pejabat korup untuk meluluskan transfer ilegal,
menyebabkan kemarahan muncul di kalangan petani yang dirampas tanahnya.
Chamara Mamoye
tidak termasuk yang berunjuk rasa. Pelaku aksi sebagian besar adalah pemuda yang turun ke jalan di Chitu, Chamara berbagi keprihatinan dengan mereka tentang sistem pemerintahan tidak
responsif.
Chamara juga frustrasi dengan
janji-janji pejabat yang
berulang kali mengatakan akan memperbaiki aspal jalan utama yang berjalan melalui Chitu.
Meskipun wilayah itu memiliki
listrik dan sinyal ponsel, ia kecewa dengan tingkat kemajuan sejak pemerintah
berkuasa 25 tahun yang lalu.
Ia juga kecewa dengan kurangnya informasi dan perundingan terkait kebijakan tanah, serta prihatin dengan
kecurigaan adanya korupsi, meskipun
pejabat tidak memperlihatkan praktek haram itu.
"Korupsi
tersebut dilakukan dengan cara rahasia. Ini adalah silent killer (pembunuh diam-diam)," katanya.
Pemerintah sendiri mengakui ketidakpuasan terhadap kualitas
pelayanan publik dan tingginya tingkat korupsi.
"Di banyak daerah, personil dikatakan terlibat dalam korupsi besar-besaran
yang menyebabkan tiba-tiba terjadi ledakan kemarahan yang
sedang diredam," kata
juru bicara pemerintah Getachew Reda dalam sebuah wawancara pekan lalu.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi bulan lalu di kota Woliso, sekitar 113km barat daya dari Addis Ababa. Enam demonstran tewas oleh
pasukan keamanan setelah ribuan orang dari desa-desa sekitarnya turun ke jalan
memprotes rencana perluasan kota.
Sekelompok pemuda Oromo yang
berkumpul di pinggir sungai
Walga, beberapa mil dari
Woliso, berbicara tentang ketakutan masyarakat atas rencana penggusuran dan ganti rugi yang rendah. Namun,
tak seorang pun tahu secara spesifik tentang rencana pemerintah dan mereka
menuding pemerintah daerah tidak memiliki izin.
Jangan korbankan kehidupan petani
Ethiopia telah lama menjadi
kesayangan masyarakat donor internasional, karena tingkat pertumbuhan pembangunan
dan ekonomi yang tinggi selama
dekade terakhir dan melupakan pelanggaran HAM di masa lalu.
Di
utara Chitu, ada Danau
Kawah Wenchi yang menawarkan sebuah pemandangan spektakuler dan populer di kalangan turis, tapi kondisi
yang sama terjadi.
Tentara masih di
kota dan sebagai warga di tempat lain. Pihak berwenang telah menangkap
orang-orang yang diduga terlibat dalam aksi protes. Sementara sebagian tampak takut dengan tindakan keras
keamanan, tapi Rabuma Terefa tidak demikian.
Temannya ditembak di kaki di pinggiran Chitu saat ia berjalan bersama pengunjuk rasa lainnya dari Wenchi.
Rabuma mengatakan, ketika
sebuah unit militer elit memerintahkan ketua demonstran untuk kembali, kelompok menolak, dengan alasan mereka memiliki
hak konstitusional untuk melakukan demonstrasi damai. Dalam beberapa menit,
tentara melepaskan tembakan, membunuh orang, termasuk Birhanu Dinka yang
memimpin demonstran pada saat
itu.
"Mereka tidak mengatakan apa-apa, mereka hanya menodongkan senjata pada
kami. Kami meminta mereka untuk tidak membunuh kami," kata Rabuma (27).
Ketika
pelanggaran mungkin telah terjadi, pasukan keamanan diperintahkan untuk melindungi warga sipil.
Saat protes di Wenchi, sebuah
perusahaan pertanian milik Belanda,
Solagrow, dibakar oleh ratusan orang.
Rabuma mengatakan, penyulut kemarahan penduduk setempat adalah
karena 100 hektar lahan
penggembalaan komunal dipagari dan disewakan oleh
pemerintah.
"(Para
demonstran) menjadi marah dan mereka mengatakan hanya ada satu cara untuk
melanjutkan, dan itulah pertanian kami, karena kami satu-satunya pemilik di
tempat itu," kata Jan van de Haar, Manajer Solagrow.
Serangan demonstran
itu juga menghancurkan mesin dan bibit kentang
seharga $ 300.000.
"Tidak ada yang menentang pembangunan kota,
tetapi tidak harus dengan mengorbankan kehidupan petani," kata Chamara
yang berbicara kepada banyak warga etnis Omoro.