Rabu, 03 Februari 2016

Misteri Gadis Buruan 3: Kuntilanak Minta Ikut

Ilustrasi Putri Aninda Serunai, Bidadari Asap Racun. (Gambar: Flickr.com)
Legaspati sudah menormalkan kembali keadaan tubuhnya yang sempat terluka dalam akibat pukulan keras Panglima Setan. Ia rebahkan tubuhnya dengan berbantalkan akar pohon besar yang mereka gunakan bernaung dari teriknya siang.

Sementara si cantik Bocah Kuntilanak masih dalam proses menormalkan aliran darahnya. Ia bersila layaknya seorang petapa.

Legaspati memejamkan matanya, entah mau tidur atau menikmati sejuknya naungan bayang pohon disertai belaian kencang angin pegunungan.

“Hihihi...!”

Tiba-tiba Bocah Kuntilanak tertawa nyaring menyeramkan seperti kuntilanak kuburan. Tawa itu membuat Legaspati spontan bangun duduk.

“Benar-benar kurang ajar kau! Membuat marah orang lain itu tidak baik. Jangan suka cari masalah. Coba jika kau tidak jatuh di atap kedai, pasti tidak adak pertarungan. Coba jika tidak ada pertarungan, pasti kerbau itu tidak datang. Coba jika kerbau itu tidak datang, pasti tidak terluka. Coba jika tidak terluka, pasti tidak akan kabur. Coba jika tidak kabur, pasti kita sudah makan enak. Kalau sudah makan enak, pasti sekarang aku tidak kelaparan seperti ini. Kau enak, sempat makan tadi. Coba lihat aku, perutku sudah bernyanyi minta makanan. Pokoknya aku harus makan!” cerocos Legaspati bertubi-tubi memarahi Bocah Kuntilanak, membuat gadis itu diam melongo memandanginya.

“Legaspati jelek, kau kenapa?” tanya Bocah Kuntilanak seakan tidak mengerti dengan kemarahan Legaspati.

“Aku lapaaar!” teriak Legaspati sangat kesal lalu menepuk-nepuk bumi sebagai pelampiasannya.
“Tuh, banyak rumput dan daun di atas pohon,” kata Bocah Kuntilanak serius.

“Aku serius, Anak Bocah!” Legaspati geregetan sendiri.

“Lho, katanya Legaspati kambing, kenapa tidak suka rumput?” tanya Bocah Kuntilanak heran.

“Waaah! Kalau terus bersama kau, bisa mampus aku. Lebih baik aku pergi saja cari makanan sendiri!” teriak Legaspati lalu berdiri dan melangkah pergi.

“Awaaas!” teriak Bocah Kuntilanak.

Legaspati terkejut dan cepat berpaling ke belakang. Pemuda itu kian terkejut ketika melihat tubuh Bocah Kuntilanak meluncur di udara sudah sangat dekat dengannya.

Blugk!

Tubuh Bocah Kuntilanak menimpa punggung Legaspati. Mau tidak mau tubuh Legaspati ditindih Bocah Kuntilanak. Lumayan sakit bagi Legaspati.

“Benar-benar tersiksa bila bersama bocah gila seperti ini!” keluh Legaspati.

“Aku sangat kagum dengan kipas itu. Kalau aku tahu kehebatannya, pasti tidak akan aku berikan. Aku minta lagi ya kipasnya?” kata Bocah Kuntilanak.

“Tidak bisa!” sentak Legaspati sambil menyentakkan tubuhnya ke atas, membuat tubuh Bocah Kuntilanak terlempar dari punggung Legaspati. “Aku mau pergi, jangan ikut!”

“Kenapa aku tidak boleh ikut? Bukankah aku cantik? Kalau Legaspati jelek pergi, nanti tidak akan aku jadikan prajurit!” kata Bocah Kuntilanak sambil tarik belakang baju si pemuda.

“Kata siapa kau cantik? Kata siapa kau seorang putri? Aku lapar. Aku mau pergi cari makanan. Jangan ikut!”

“Kalau Legaspati jelek mau pergi, ya sudah pergi saja!” kata Bocah Kuntilanak lalu mendorong punggung Legaspati, dan ia kemudian berbalik menjauh dengan wajah merengut cantik, tandanya mengambek.

Legaspati berbalik melihat Bocah Kuntilanak yang sesekali melirik-lirik kepadanya.

“Ya sudah pergi saja, aku tidak akan menangis, aku tidak akan marah!” kata Bocah Kuntilanak dengan bibir dimonyongkan sedikit.

Lalu Legaspati berkata, “Hati-hatilah!”

Legaspati pun berbalik dan melangkah pergi.

Bocah Kuntilanak berbalik dan memandang kepergian Legaspati. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke bumi seperti anak kecil mau menangis. Lalu duduk sembarangan di tanah dengan bibir kian monyong.

“Dasar banci tukang bohong!” teriak Bocah Kuntilanak keras yang masih didengar jelas oleh Legaspati.

Legaspati hentikan langkahnya, tapi tidak berbalik.

“Katanya aku gadis cantik yang kuat dan sakti, katanya sayang aku. Mana? Legaspati memang banci siput yang jelek. Biarkan aku sendiri. Jika nanti bertemu dengan kerbau besar itu, mungkin aku hanya mati, kemudian dimakan anjing hutan. Biarkan saja, Legaspati jelek itu pergi!” celoteh Bocah Kuntilanak tapi dengan nada tinggi.

Celotehan pelampiasan kekesalan itu membuat Legaspati tiba-tiba berkelebat di udara dan mendarat tepat di depan Bocah Kuntilanak yang masih duduk di tanah.

“Hai, Gadis Cantik!” sapa Legaspati sambil setengah membungkuk di depan Bocah Kuntilanak dan memasang wajah senyum buatan yang lucu.

Bocah Kuntilanak menatap tajam wajah Legaspati, membuat wajah cantik itu kian menggemaskan mata lelaki, tak terkecuali Legaspati.

“Pergi sana!” usir Bocah Kuntilanak sambil berbalik membelakangi Legaspati.

Legaspati lalu duduk bersila menempel di sisi kiri Bocah Kuntilanak. Sementara tangan kanannya merentang merangkul bahu gadis itu.

“Seringai Malam adalah gadis yang cantik seperti bidadari. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri. Kita cari makanan enak, yuk?” bujuk Legaspati dengan menyebut nama asli Bocah Kuntilanak.

“Katanya mau pergi sendiri?” kata Bocah Kuntilanak melirik tajam.

“Memangnya aku tega, aku makan enak sedang kau tidak?” kata Legaspati.

“Hihihi!”

Bocah Kuntilanak tertawa pendek akhirnya, lalu berdiri dan menari-nari asal tari. Legaspati hanya tersenyum melihat tingkah gadis cantik berkelakuan bocah itu.

“Nanana, nanana, Legaspati jelek jadi ganteng, Legaspati banci jadi pendekar, Legaspati siput jadi kucing! Nanana....!”

“Dari siput jadi kucing, tetap saja sama-sama binatang!” rutuk Legaspati pelan. Mau tidak mau ia harus menerima tingkah Bocah Kuntilanak.

“Legaspati memang kucing!! Hihihi....!” sorak Bocah Kuntilanak sambil berlari mendatangi Legaspati lalu mencubit kuat kedua pipi pemuda itu.

Legaspati hanya meringis menerima nasibnya.

“Kita cari makan!” teriak Bocah Kuntilanak sambil berjalan pergi dengan langkah riang.

Legaspati berjalan di belakang Bocah Kuntilanak yang tidak henti-hentinya bernyanyi riang dengan irama dan syair yang kacau, walaupun suaranya sedikit lumayan.

“Nanana, nanana. Ayam bertelur di sungai..., telurnya pecah..., dor! Ikan-ikan kaget semuuuaaa.... Eh, ada anak ayam berenang, hooo... oooh... nanana...!”

Seperti itulah syair nyanyian Bocah Kuntilanak yang tidak jelas menyanyikan lagu ciptan siapa, buruk dan ngawur. Tapi tidak jarang Legaspati tertawa sendiri di belakang mendengar syai-syair yang ngawur tapi terkadang lucu. Legaspati sendiri tidak mau mengganggu keriangan gadis itu.

Akhirnya mereka memasuki sebuah desa kecil di sebuah kaki bukit setengah gundul. Mereka melewati alun-alun kecil, tempat sekelompok anak kecil lelaki sedang bermain. Di pinggir alun-alun terdapat sebuah rumah makan sederhana.

Alun-alun itu juga menjadi lapangan bagi penduduk desa. Di sisi lain tidak ada tanah lapang, yang ada hanyalah rumah dan kebun-kebun penduduk.

“Hei! Aku ikutan!” teriak Bocah Kuntilanak sambil berlari senang ke arah anak-anak. 

Anak-anak itu jadi berhenti bermain. Mereka semua diam memandang ke arah Bocah Kuntilanak yang datang sambil tertawa-tawa nyaring seperti kuntilanak tengah malam.

“Ada demiiit!” teriak seorang bocah di antara mereka.

“Demiiit!” teriak semua bocah lainnya sambil lari terbirit-birit menyusul temannya yang jadi provokator.

Bocah Kuntilanak jadi berhenti berlari dan berhenti tertawa. Ia kebingungan dengan sikap anak-anak itu.

“Hahaha...!” Legaspati malah tertawa terbahak-bahak.

“Kok tertawa?” tanya Bocah Kuntilanak masam. “Tidak ada yang lucu!”

“Siapa yang mengatakan ada yang lucu?” tanya Legaspati sambil masih tertawa.

“Tadi lucu, anak-anak lari ketakutan melihatku. Hihihi! Pasti aku terlalu cantik,” kata Bocah Kuntilanak.

“Mana ada demit yang cantik?” timpal Legaspati.

“Demit itu apa?” tanya Bocah Kuntilanak serius.

“Demit itu setan penunggu kuburan seperti kuntilanak,” jawab Legaspati lalu pergi menuju ke rumah makan yang ada.

“Legaspati ganteng tapi bodoh,” kata Bocah Kuntilanak sambil mengikuti Legaspati. “Aku tidak pernah menunggui kuburan, untuk apa?”

“Nanti kau jangan main-main ke sana ke sini, harus diam di tempat. Jika kau buat kacau lagi, aku akan marah sungguhan!” pesan Legaspati mengancam.

“Iya,” angguk Bocah Kuntilanak sambil senyum lucu kepada Legaspati.

Mereka masuk ke rumah makan itu. Di sana ada beberapa pelanggan, baik itu pelanggan yang sifatnya sekedar mampir seperti halnya Bocah Kuntilanak dan Legaspati, maupun pelanggan yang sudah kerap kali datang seperti warga di desa itu.

Bocah Kuntilanak langsung pesan ini itu dan ini kepada pelayan. Seraya bersenandung ringan dan pandangan jelalatan, Bocah Kuntilanak tetap duduk di tempatnya. Ia menjadi anak baik kali ini.

“Siapa kerbau sakti yang menghajar kita tadi?” tanya Legaspati kepada Bocah Kuntilanak.

“Oh itu. Kata guruku, jangan sampai bertemu dengan Panglima Iblis atau Panglima Setan, sangat berbahaya. Kalau aku bertemu dengan mereka, aku jadi tikus mereka jadi kucing. Aku bisa dimakan oleh mereka....”

“Lalu, sebutan Putri Wilasin?” tanya Legaspati memotong.

“Hihihi!” Bocah Kuntilanak cekikikan kecil. “Itu namaku. Kata Guru, kalau aku sudah tinggal di istana, maka aku akan memakai nama Putri Wilasin. Nanti, jika aku jadi putri, Legaspati akan aku jadikan tukang kuda.”

“Apakah kau benar-benar seorang putri?” tanya Legaspati lagi, sulit untuk bisa percaya.

Bocah Kuntilanak tidak langsung menjawab, sebab ia mendengar perkataan orang.

“Bukankah itu pendekar yang sedang banyak dibicarakan, karena banyak meninggalkan kegemparan?” tanya seorang lelaki berpakaian pendekar kepada teman wanitanya yang juga berpakaian pendekar.

“Benar, itu Pendekar Langkah Jagad,” jawab si wanita membenarkan setelah melihat ke luar.

Mendengar pembicaraan dua pendekar tak dikenalnya itu, Bocah Kuntilanak cepat berdiri dan berlari ke pintu rumah makan.

Bocah Kuntilanak melihat satu rombongan sebanyak lima orang.

Orang pertama adalah seorang wanita separuh baya. Berpakaian hijau longgar tapi rapih. Ia bernama Nenek Lewang.

Orang kedua adalah seorang dara jelita dengan kulit wajah putih bersih. Berhidung mancung, bibir merah alami, sepasang mata bening dengan alis sederhana tapi panjang bagus. Giwang birunya yang bercahaya mempercantik wajah alaminya yang tanpa pupur bedak. Rambutnya pendek tapi ikal berhias pita merah. Postur tubuhnya ramping, tidak kurus dan tidak gemuk. Pakaian merah mudanya tertutup dengan rapih. Di pinggang kirinya menggantung sebuah cemeti kuning mengkilap, terbuat dari benang khusus. Celana kuningnya dilapisi rok panjang yang memiliki beberapa belahan. Namanya Sukma Lentani, bergelar Putri Cemeti Bulan.

Orang ketiga adalah wanita bercadar merah yang mengenakan pakaian mirip gaun. Semua tubuhnya tertutup, kecuali mata dan kedua telapak tangan yang tampak kulitnya. Rambut ikalnya pun berwarna merah, serasi dengan pakaian serba merahnya. Ia memiliki sepasang mata yang begitu bening, laksana langit malam tanpa awan, sangat indah dan betah untuk dipandang, terlebih ditambah tatanan alis yang rapih dan sedikit tebal. Kulit putihnya halus tidak tercacat. Hanya kulit tangannya yang dilapisi kulit palsu. Ia mengenakan caping bambu bercat putih. Ia adalah Putri Aninda Serunai, seorang pendekar wanita yang baru muncul di dunia persilatan dan ternyata memiliki ilmu yang belum ditemui tandingannya.

Putri Aninda Serunai menggendong seorang lelaki dewasa di punggungnya. Ini adalah orang keempatnya. Seorang pemuda bercadar putih bersih yang bersinar redup oleh sinar matahari. Pakaian serba hitamnya dilapisi rompi merah tanpa kancing. Rambutnya panjang lurus sepunggung dan sebagian diikat dengan pita merah panjang. Dialah Sanggana yang bergelar Pendekar Langkah Jagad. Kini ia sedang mengalami cedera pada kedua kakinya sehingga tidak bisa berjalan.

Orang kelima adalah seorang gadis kecil berusia 12 tahun, berpakaian putih. Wajahnya begitu cantik untuk anak seukurannya. Bocah perempuan itu bernama Brakantani, adik angkat Sanggana.

Dari arah langkah mereka, rombongan Pendekar Langkah Jagad tidak berniat mampir ke rumah makan itu, tapi sekedar lewat. Namun, betapa girangnya Bocah Kuntilanak melihat mereka.

“Yeaaa! Hoiii, tangkap aku!” teriak Bocah Kuntilanak dengan tubuh sudah meluncur di udara ke arah rombongan Sanggana.

Spontan rombongan itu berpaling melihat ke sumber suara. Sanggana tampak agak terkejut, karena Bocah Kuntilanak meluncur ke arahnya dengan tangan terentang siap memeluk. Tapi mudah sekali bagi Putri Aninda Serunai memindahkan posisi Sanggana yang digendongnya.

“Aaa...!” pekik Bocah Kuntilanak karena wajahnya akan menghantam bumi, bukannya Sanggana.
“Hei!” seru Sukma Lentani bergerak cepat menyambar tubuh Bocah Kuntilanak sehingga batal menghantam bumi.

“Hihihi!” tawa Bocah Kuntilanak saat sadar dirinya diselamatkan oleh Sukma Lentani.

“Hei!” sapa Sukma Lentani sambil menepuk bahu kiri Bocah Kuntilanak. “Siapa yang melemparmu, Cantik?”

“Legaspati!” jawab Bocah Kuntilanak begitu gembira lalu langsung memandang senyum kepada Sanggana. “Adu lucunya, hihihi!”

Bocah Kuntilanak berlari sambil tertawa ke arah Sanggana, entah apa niatnya, seakan-akan Sanggana adalah boneka yang lucu.

“Jaga tindakanmu, Bocah!” kata Putri Aninda Serunai sambil sedikit gerakkan satu jari tangannya.

Bek!

“Wak!” pekik tertahan Bocah Kuntilanak, saat ada kekuatan besar menghantam perutnya, membuat tubuhnya terlempar ke belakang.

“Hei!” seru Sukma Lentani sambil bertindak sigap menyambar tubuh Bocah Kuntilanak, membuat gadis iseng itu gagal lagi menghantam bumi. “Memangnya Sanggana itu lucu?”

“Hihihi! Sangat lucu!” jawab Bocah Kuntilanak.

Sukma Lentani, Nenek Lewang dan Brakantani jadi tertawa.

“Kenapa kalian lewat di daerah ini?” tanya Legaspati yang datang dengan wajah penuh sesal.

“Memangnya kenapa?” tanya Nenek Lewang tanpa marah disalahkan.

“Seharusnya kalian lewat jalan lain. Karena kalian lewat sini, si Kuntilanak jadi melihat kalian. Dia pasti minta ikut, karena ada mainan lucu,” ujar Legaspati yang juga sudah akrab dengan rombongan orang sakti itu.

“Jadi kau juga menganggapku mainan?” tanya Sanggana datar.

“Tidak,” jawab Legaspati nyengir, lalu menghampiri Bocah Kuntilanak. “Ayo kita makan, biarkan mereka pergi.”

Legaspati mencoba menarik tangan Bocah Kuntilanak agar kembali ke rumah makan.

“Tidak mau!” tolak Bocah Kuntilanak sambil menarik lepas tangannya. “Aku mau ikut!”

“Lebih baik kau kenyangkan perutmu di dalam kedai, sebab kami akan pergi menemui Dewi Mata Hati,” kata Sanggana.

“Tidak mau tdak mau tidak mau, aku mau ikut!” teiak Bocah Kuntilanak dengan wajah merengut. “Pokoknya aku mau ikut!”

“Apa kau mau mampus? Kau hanya akan mengacaukan perjalanan mereka,” bisik Legaspati mencoba mencegah.

“Hei hei hei, Kakak Sakti!” Bocah Kuntilanak menghampiri Putri Aninda Serunai seraya senyum-senyum. “Aku ikut, ya? Aku kuat seperti kuda. Kalau kau nanti lelah menggendong bonekaku, kau bisa berikan kepadaku. Aku juga bisa menggendong anak.”

“Memangnya aku anak kecil?” rutuk Sanggana yang hanya didengar oleh Putri Aninda Serunai, membuat putri itu tersenyum di balik cadarnya.

“Tanyalah kepada Nenek Lewang!” suruh Putri Aninda Serunai kepada Bocah Kuntilanak.

Mendapat lampu kuning, Bocah Kuntilanak cepat menghadap kepada Nenek Lewang.

“Aku ikut, ya? Sekali ini saja. Nanti, saat aku mati, pasti aku tidak minta ikut lagi!” rajuk Bocah Kuntilanak kepada Nenek Lewang.

“Hahaha!” Legaspati malah tertawa. “Kalau kau mati, minta ikut pun dibolehkan!”

Mereka hanya tertawa kecil, tak sepanjang tawa Legaspati.

“Biarkan dia mempererat rasa bersaudaranya,” kata Putri Aninda Serunai kepada Nenek Lewang.
“Baiklah, kau boleh ikut,” kata Nenek Lewang.

“Hihihi...!” tawa Bocah Kuntilanak yang membuat semua yang mendengar tergidik merinding.

Sambil tertawa senang, Bocah Kuntilanak berlari mengelilingi mereka. Ujung-ujungnya ia melompat ke punggung Legaspati lalu menarik-narik rambut gondrong pemuda itu.

“Nanana.... Aku senang... kau senang... kucing ini senang! Legaspati kucing rambutnya mirip kuntilanak! Nanana...!”

Sambil terus mengacak-acak rambut Legaspati, Bocah Kuntilanak terus bernyanyi buruk. Legaspati jelas kelabakan.

“Rambutku bukan kue, Gadis Tua!” sentak Legaspati sambil melempar tubuh Bocah Kuntilanak dari punggungnya.

Yang lain hanya tertawa. Apa lagi ketika Bocah Kuntilanak dilempar dan jatuh terduduk di tanah. Bukannya mengeluh sakit, gadis itu justeru tertawa yang menggidikkan bulu kuduk, terutama bagi orang-orang yang ada di dalam rumah makan. Bahkan warga biasa jadi merasa takut sendiri.

“Hei! Berhentilah tertawa, kau membuat suasana seperti di alam setan!” kata Sukma Lentani yang suka dengan karakter Bocah Kuntilanak.

Meski usianya sudah hampir kepala tiga, tapi tingkahnya membuat Bocah Kuntilanak disikapi seperti adik cantik yang nakal bagi mereka.

“Kita lanjutkan perjalanan!” kata Nenek Lewang.

“Eit, tunggu dulu!” seru Legaspati cepat. “Bagaimana dengan makanku? Sejak kemarin aku tidak makan karena ulah si kuntilanak itu!”

“Kau lapar, Kantani?” tanya Sanggana kepada adiknya.

Brakantani mengangguk.

“Kami baru dapat sedikit perhiasan dari Datuk Bongkok, jadi mampirlah sejenak untuk istirahat dan makan,” tawar Legaspati.

“Iya iya iya!” sahut Bocah Kuntilanak sangat mendukung.

“Jangan mengabaikan kebaikan orang lain, terutama kebaikan sahabat sendiri,” kata Sanggana.

“Sangat bagus itu!” sahut Sukma Lentani lalu berlari masuk lebih dulu ke rumah makan sederhana itu. “Pelayan!”

Menyusul Legaspati, Nenek Lewang dan Brakantani, lalu Putri Aninda Serunai. Bocah Kuntilanak belakangan sambil senyum-senyum memandangi Sanggana. Ketika Putri Aninda Serunai masuk, Bocah Kuntilanak berjalan seperti maling mebuntuti Sanggana yang bertengger di punggung kekasih setianya.

“Aku dapat!” teriak Bocah Kuntilanak sambil melompat menerkam ke arah Sanggana.

Begk!

“Hekh!”

Sebelum tangan Bocah Kuntilanak menyentu tubuh Sanggana, lebih dulu satu kekuatan tenaga dalam dari Putri Aninda Serunai menghantamnya. Tubuh Bocah Kuntilanak terlempar jauh ke luar dan tersorong keras di tanah alun-alun.

“Hei! Jangan terlalu kasar kepadanya, Putri!” kata Sukma Lentani mengigatkan.

“Aku rasa itu masih ringan sekali,” kata Putri Aninda Serunai lalu duduk di tempat lain, tidak bergabung dengan Sukma Lentani dan lainnya.

Putri Aninda Serunai mendudukkan Sanggana di sebelah kirinya. Brakantani sendiri tidak mau mengganggu kakaknya dan Putri. Keduanya hanya memesan minuman.

“Aku sarankan agar lebih meringankan urusan dengan gadis itu, jiwanya masih terlalu muda, mungkin kekuatan pemahamannya masih belum bisa diandalkan,” kata Sanggana kepada Putri Aninda Serunai.

“Tingkah dan wataknya memang masih anak kecil, tapi ia sudah tahu rasa suka kepada lawan jenisnya,” kata Putri Aninda Serunai.

Sanggana tertawa kecil.

“Aku suka rasa besar cemburumu, tapi jangan juga terlewat batas.”

“Aku mengerti. Tandanya aku sampai melewati batas adalah, jika rasa cemburuku sampai membuat wanita lain mati karenaku. Yang dialami Bocah Kuntilanak baru satu dari seratus kekuatan cemburuku,” kata Putri Aninda Serunai lalu memegang tangan kanan Sanggana. “Bocah Kuntilanak adalah ujian yang tidak berarti bagi cinta kita.”

“Boleh aku bergabung?” tanya Sukma Lentani yang datang ke meja mereka.

“Dengan senang hati,” kata Putri Aninda Serunai lembut.

“Maaf jika aku mengganggu cinta kalian, tapi tidak apalah. Bukankah kalian sudah kenyang selalu mesra? Maka itu aku akan mengganggu kalian dalam beberapa hari ini,” kata Sukma Lentani.

Sanggana dan Putri Aninda Serunai tertawa kecil.

“Aku datang....!”

Tiba-tiba muncul teriakan Bocah Kuntilanak. Dan seperdetik kemudian, tiba-tiba tubuh Bocah Kuntilanak muncul dari atas dan meluncur turun ke arah Sanggana dengan kepala di bawah.

Hanya dengan menggunakan sedikit tenaga sakti matanya, Putri Aninda Serunai melemparkan tubuh Bocah Kuntilanak sebelum menyentuh Sanggana. Tubuh Bocah Kuntilanak terlempar ke arah dinding rumah makan, tapi dia bisa mengatur tubuhnya, sehingga kedua kakinya bisa bertolak pada dinding papan.

“Aku datang lagi....! Hihihi!” teriak Bocah Kuntilanak tidak jera.

Namun, tawa dan niatannya kepada Sanggana jadi terputus, kekuatan mata Putri Aninda Serunai kembali mementalkan tubuh Bocah Kuntilanak. Lagi-lagi Bocah Kuntilanak selamat dari tiang besar penyanggah rumah makan itu. Bocah Kuntilanak berhenti sejenak dan berdiri sambil tertawa-tawa lucu. Entah ia tertawa kepada siapa?

“Hei, jangan terlalu keras memberinya pengajaran!” kata Sukma Lentani, kembali mengingatkan sahabatnya itu.

“Selama belum mati, itu belum keras,” kata Putri Aninda Serunai tetap bernada lembut.

“Sanggana lucu, aku datang...!” teriak Bocah Kuntilanak lagi dengan tubuh melesat begitu cepat kepada Sanggana.

Begk!

“Ekh!”

Ketika tinggal dua jangkauan dari tubuh Sanggana,  tenaga dalam Putri Aninda Serunai lebih cepat menghantam keras perut Bocah Kuntilanak. Tubuh gadis bermata sipit itu terpental sejauh dua tombak lalu diam mengambang di udara. Semua jadi tegang, menunggu apa yang akan dilakukan Putri Aninda Serunai terhadap gadis bocah itu. Kesaktian mata Putri Aninda Serunai membuat Bocah Kuntilanak tidak bisa berbuat apa-apa.

“Lho kok, bisa seperti ini ya?” tanya Bocak Kuntilanak heran. Tampak sudah ada darah merembes di sudut bibirnya.

Bek!

“Ekh!” pekik Bocah Kuntilanak dengan tubuh kembali dilemparkan.

Brak!


Tubuh Bocah Kuntilanak menghantam jebol dinding papan rumah makan itu, menunjukkan besarnya tenaga yang diberikan oleh Putri Aninda Serunai. 

(Bersambung....)

Lesotho Darurat Nasional Kekeringan

(Foto: dok. WFP.org)
Pemerintah negara Afrika Lesotho telah mengumumkan keadaan darurat nasional kekeringan yang terus melanda petani.

Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan, ratusan ribu orang di negara Afrika Selatan itu akan membutuhkan bantuan pangan di tahun mendatang.

Seorang petani di distrik Leribe bernama Mapuleng Khalala terpaksa membungkus pergi tas jagung yang kosong karena gagalnya hasil panen.

"Sangat sulit hidup dalam situasi ini, karena saya tinggal di pertanian, jadi saya tidak tahu apa yang akan saya makan bersama anak-anak saya," katanya kepada Al Jazeera yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (2/2).

WFP mengatakan, kekeringan melanda 80 persen penduduk pedesaan Lesotho.

Pemerintah telah berjanji akan mengucurkan dana bantuan kekeringan sebesar $ 10 juta (sekitar Rp138 miliar), sepertiga dari jumlah yang diperlukan.

Kebanyakan orang di daerah pedesaan bergantung pada pertanian subsisten, dan kekurangan air minum yang parah memperburuk situasi.

Kini, setengah dari penduduk negara itu bertahan dengan penghasilan kurang dari satu dolar per hari.
"Skenario terburuk, jika kita tidak bereaksi sekarang, kita akan melihat orang-orang tanpa aset mereka, sapi mereka, domba mereka," kata Mary Njoroge, pejabat WFP.

"Mereka menjual harta apa pun yang mereka miliki. Ini berarti mereka akan jatuh ke dalam kemiskinan yang lebih dalam yang akan membuat lebih sulit," katanya.


Terlebih ketika mendekati musim dingin, masyarakat Lesotho dilanda kekhawatiran. 

(Sumber: MirajNews.com/id)

Selasa, 02 Februari 2016

Misteri Gadis Buruan 2: Kipas Badai Neraka

Ilustrasi Bocah Kuntilanak (dok. IndonesiaOne.org)
Oleh Rudi Hendrik

Cerita sebelumnya: Misteri Gadis Buruan 1: Berburu Robenta

Salah satu kemurahan Yang Maha Pemurah adalah diciptakannya hutan yang berguna untuk jadi tempat berteduh dari terik Sang Surya. Seharusnya kedua manusia itu tidak melewatkan rahmat yang disediakan oleh Tuhan. Namun, karena mereka lapar dan tidak menemukan makanan yang memadai di hutan itu, terpaksa mereka memilih mencari makanan di tempat makanan terdekat. Siapakah kedua anak manusia itu?

Yang pemuda berusia 38 tahun. Wajahnya tampan dengan berhias kumis. Pakaiannya serba hijau, kecuali sabuknya yang berwarna hitam. Pakaiannya bermodel ketat tanpa lengan, terkesan ingin menonjolkan sepasang lengan kekarnya. Pemuda berambut gondrong itu menyandang pedang di pinggang kirinya. Ia bernama Legaspati.

Legaspati bersama dengan seorang gadis cantik berkulit putih bersih, tapi gadis itu digendong di punggung si pemuda. Matanya sipit indah dan bibirnya agak tipis. Meski terlihat seperti usia masih 19 tahun, tapi usianya adalah 26 tahun. Rambutnya panjang hingga bokong seperti kuntilanak. Namanya Seringai Malam, tapi lebih dikenal dengan nama “Bocah Kuntilanak”.

“Huta ini pasti banyak dosanya, makanya tidak diberi makanan. Dasar hutan pelit!” gerutuh Bocah Kuntilanak.

“Jadi gadis itu jangan suka mengeluh dan menggerutuh. Hah, lelah menggendong perempuan sepertimu. Apa lagi panas sangat terik,” kata Legaspati.

“Jadi lelaki itu jangan suka mengeluh. Lelaki itu harus melindungi gadis cantik sepertiku!” balas Bocah Kuntilanak sambil mencubit pipi kiri Legaspati, lalu tertawa nyaring menyeramkan laksana tawa kuntilanak, membuat si pemuda mengerenyit kebisingan, karena sumber tawa itu berada di dekat teinganya.

Saat tertawa menyeramkan seperti itu, justeru wajah Bocah Kuntilanak tampak lucu, karena kedua mata sipitnya jadi terpejam dan muncul lesung manis di kedua pipinya.

“Berisik!” hardik Legaspati, membuat Bocah Kuntilanak langsung diam dengan mulut dimonyongkan. “Kalau mau tertawa jangan di dekat kepalaku, pergi jauh-jauh. Mengerti, Nona Cantik?”

“Hihihi...! Aku memang cantik dan Legaspati jelek!” kata Bocah Kuntilanak setelah tertawa lebih dulu.

“Cantikan kambing daripada kau!” kata Legaspati yang selalu bernada kesal.

“Hihihi...!” Bocah Kuntilanak malah tertawa nyaring lagi, hingga Legaspati tergidik mendengarnya.

“Dasar berisik!” sentak Legaspati sambil melepaskan tubuh Bocah Kuntilanak ke belakang hingga lepas dari punggungnya.

Bocah Kuntilanak yang tertawa panjang seketika diam, saat tiba-tiba bokongnya menghantam bumi. Sakit. Wajahnya merengut asam.

“Hahaha...!” giliran Legaspati yang tetawa terbahak-bahak melihat Bocah Kuntilanak jatuh duduk sembarangan.

“Kalau aku tidak digendong lagi, nanti emasnya tidak mau aku bagi!” ancam Bocah Kuntilanak.

“seharusnya kau itu jangan menyusahkan orang lain. Aku sudah menggendongmu sejak dari kediaman Kudapati. Aku belum makan dan sekarang panasnya ampun. Kau juga berat sekali. Aku lelah. Eh, kau tambah dengan berisik,” ujar Legaspati.

“Katanya Legaspati sayang aku, ah, Legaspati bohong. Aku mau pergi sendiri saja. Pokoknya legaspati itu banci, bukan lelaki. Pokoknya tidak akan aku beri jagung bakar, apa lagi emas. Legaspati banci yang mirip kuda tua. Gendong anak kecil saja kelelahan. Legaspati banci! Legaspati bancanci! Banci...!”

“Iya iya iya iya iya! Aku gendong, tapi jangan menyebutku banci lagi!” seru Legaspati mengalah.
“Hihihi...!”

Bocah Kuntilanak tertawa nyaring lagi sambil berputar salto di udara lalu jatuh tepat di punggung Legaspati. Bocah Kuntilanak tampak tidak segan-segan melakukan itu, padahal keduanya tidak memiliki ikatan darah atau hubungan kekasih. Bocah Kuntilanak benar-benar tidak mau peduli dengan apa yang dirasakan oleh Legaspati.

Legaspati sebagai seorang lelaki yang belum memiliki ikatan cinta kepada seorang wanita, tentu merasa risih digelayuti oleh seorang gadis cantik putih bersih seperti itu. Pikirannya jelas berputar-putar di sekitar masalah perasaan hati. Hatinya bertanya-tanya, apakah Bocah Kuntilanak menganggapnya kakak, atau teman, atau lelaki yang dicintainya. Namun, hati yang bertanya-tanya itu tidak mengambang lama.

“Digendong itu memang enak, pantas bila kekasihku suka digendong,” kata Bocah Kuntilanak sambil meremas-remas rambut gondrong Legaspati.

Sebenarnya Legaspati kesal rambutnya diremas-remas dan dihentak-hentak. Namun, karena emas pemberian dari Kakek Bongkok ada pada Bocah Kuntilanak, Legaspati tidak mau membuat wanita kekanak-kanakan itu ngambek atau marah.

“Apa aku tidak boleh tahu siapa kekasihmu itu?” tanya Legaspati.

“Tidak boleh, aku malu. Nanti kekasihku kau rampas, hihihi!” kata Bocah Kuntilanak lalu tertawa pendek.

“Kekasihmu itu perempuan, ya?” tanya Legaspati.

“Heh!” sentak Bocah Kuntilanak sambil memukul kepala Legaspati.

Pemuda itu gemasnya bukan main karena kepalanya dipukul dengan seenaknya.

“Memang aku gadis cantik apaan? Aku tidak gila harus mencintai sesama perempuan!” kata Bocah Kuntilanak dengan nada tinggi, wajahnya merengut, tapi kali ini merengut cantik.

“Memangnya aku lelaki apa?! Aku tidak gila harus mau merebut kekasihmu!” balas Legaspati.

“Kalau aku sudah jadi putri, Legaspati pasti aku jadikan tukang bersih kandang kuda,” kata Bocah Kuntilanak alihkan tema.

“Biarkan, itu lebih baik daripada mengurus kau.”

“Aku lapar, aku lapar, aku lapar!” teriak Bocah Kuntilanak sambil memukuk-mukul bahu tunggangannya, lalu menjambak rambut Legaspati dankembali berteriak, “Aku lapar, aku lapar! Ayo cepatan jalannya!”

“Iya, tapi jangan tarik-tarik!” teriak Legaspati kian kesal.

Legaspati lalu berlari dengan ilmu peringan tubuhnya. Bocah Kuntilanak hanya tertawa-tawa girang.
Tidak sampai satu menit, Legaspati berhenti, diam berdiri.

“Ada kedai,” kata Legaspati.

“Waaa! Pasti kenyang perutku!” sorak Bocah Kuntilanak lalu turun dari punggung, membuat Legaspati hempaskan napas kelegaan.

Di depan sana memang ada sebuah kedai sederhana lengkap dengan sebuah rumah sederhananya juga. Mungkin karena keteduhan atap kedai dan pohon besar yang menaungi, membuat kedai itu cukup ramai oleh pelanggan. Atau mungkin ada faktor penarik lainnya. Pelanggan yang mampir di kedai itu beberapa di antaranya berpakaian pendekar.

“Aku lapar...!” teriak Bocah Kuntilanak nyaring sambil berkelebat di udara menuju kedai.

Teriakan Bocah Kuntilanak itu menjadi pengalih perhatian orang-orang yang ada di kedai. Semuanya jadi berpaling dan melongok untuk melihat sumber teriakan.

Bdruakr!

Tubuh Bocah Kuntilanak jatuh menjebol atap kedai, mengejutkan para hadirin kedai sekalian. Tubuh gadis itu langsung menghantam meja utama kedai. Bukan hanya para makanan yang berlompatan tidak karuan dari atas meja, tapi para pelanggan pun berlompatan kaget. Sebagian pelanggan spontan berlompatan ke luar kedai dengan berbagai macam suara kelitan.

“Waiiit!” kelit pendekar bertubuh sedang.

“Hup!” kelit yang bertubuh agak besaran.

“Aku lompat, mak!” kelit lelaki bertubuh besar gemuk.

“Kucing ngompol baunya ngompol ngompol ngompol!” latah si wanita separuh baya berwajah merengut tidak cantik.

“Wadduh! Hancur kedai terhormatku!” ratap lelaki separuh baya pemilik kedai.

“Weleh weleh weleh! Kok semuanya mirip moyang kodok?” ucap Bocah Kuntilanak heran sambil masih jongkok di atas meja.

“Hei, Kuntilanak gila!” bentak lelaki besar gemuk bersenjatakan golok pendek tapi lebar. “Tega-teganya kau hancurkan kenikmatan santapanku. Kau harus menggantikannya dengan tubuhmu!”

“Hei, Gebrokok!” sentak Bocah Kuntilanak sambil melempar kepala lelaki gemuk yang dikenalnya itu dengan kepala ayam bakar. “Kalau bicara hati-hati. Aku bisa memberimu kenikmatan. Pilih kenikmatan kotoran kuda atau Nenek Lali?”

“Eh, Bocah Setan kurang ajar tidak tahu tata krama kebocahan. Jangan suka bicara kotor. Kalau orang suka bicara kotor, nanti tahu-tahu bisa hamil. Bagaimana jadinya? Nanti kau tidak bisa tertawa lagi, nanti kau tidak bisa lompat-lompat lagi, nanti kau cepat tua, nanti kau jadi botak, nanti....”

“Hei, Nenek Lali!” sentak Bocah Kuntilanak sambil melempar wajah wanita separuh baya latah itu dengan kepala ayam juga, membuat cerocosannnya terputus berganti dengan latahan.

“Eh! Lali memang meong meong meong, mebeeek!” latah Nenek Lali.

Semuanya jadi tertawa. Tawa yang paling nyaring dan menusuk gendang telinga adalah tawa Bocah Kuntilanak. Sementara itu, Legaspati yang sudah berada di luar kedai juga ikut tertawa setelah geleng-geleng dengan ulah Bocah Kuntilanak.

“Kau sepertinya perlu diberi pelajaran, hai Perempuan!” seru pemuda berjenggot kambing berpakaian biru hijau, sama dengan pakaian ketiga temannya yang lain. Ia bernama Gelaga Sujo. Ia belum mengenal Bocah Kuntilanak.

Bocah Kuntilanak malah tertawa lucu, tidak menanggapi perkataan Gelaga Sujo. Lalu teriaknya kepada Legaspati sambil comot sana comot sini makanan yang ada, “Legaspati jelek, di sini banyak makanan! Hihihi!”

Dengan rakusnya, makanan apa saja digigit dan dicampur di dalam mulutnya hingga ia mengunyah dengan sepasang pipi yang membengkak oleh makanan. Sementara di tangan kanan dan kiri terpegang beberapa jenis makanan berbeda. Ia sedikit pun tidak peduli dengan orang-orang yang marah di sekitarnya.

“Hei hei hei! Ayo ikut makan. Kalau habis, nanti jadi kelaparan seumur-umur!” kata Bocah Kuntilanak seenaknya, membuat para pendekar itu kian geram.

Legaspati hanya geleng-geleng kepala . Bocah Kuntilanak seakan-akan tidak sadar jika dia sudah membuat para pendekar itu geram bukan main. Setelah acara makan mereka dikacaukan, mereka justeru diremehkan oleh Bocah Kuntilanak.

“Keparat sial!” maki teman Gelaga Sujo yang berbadan besar dan bernama Serbak Jala. “Mampus!”

Serbak Jala yang sudah tidak memiliki kesabaran lagi, melepaskan satu pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi.

Broakr!

Meja yang diduduki Bocah Kuntilanak hancur berantakan bersama makanannya. Sementara Bocah Kuntilanak sudah berpindah ke atas meja lain sambil menari-nari mengejek.

“Nanana... nanana... aku punya kerbau, kerbauku marah, aku beri ayam, kerbauku tambah bau! Hihihi....! Nanana....!” Bocah Kuntilanak bernyanyi mengejek.

“Benar-benar harus dihajar habis!” geram Gelaga Sujo lalu melompat ke atas meja yang sama dengan yang dinaiki Bocah Kuntilanak.

“Jangan pukul aku!” pekik Bocah Kuntilanak ketakutan sambil melesat begitu saja hendak ke luar kedai.

Namun, Bocah Kuntilanak menabrak salah satu tiang penyanggah kedai. Tapi seiring itu, tangan Bocah Kuntilanak bermain cepat menyerang tiang penyanggah kedai lainnya dengan tenaga dalam.

Ptrakr! Bdrusakr!

Satu tiang patah. Seiring itu, tiang-tiang penyanggah atap lainnya terpotong rapih laksana ditebas pedang setan. Akibtnya, atap kedai yang berat itu ambruk menimpa Gelaga Sujo.

“Hihihi...!” Bocah Kuntilanak malah mengikik seram membuat bulu tangan berdiri.

“Oalah, kedai kesayanganku!” ratap pemilik kedai yang selamat dari reruntuhan.

Keributan itu membuat isteri dan anak pemilik kedai keluar dari dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Ketiga teman Gelaga Sujo serentak menyerang posisi Bocah Kuntilanak.

Braks!

Dari bawah reruntuhan atap kedai melompat tubuh Gelaga Sujo menjebol atap. Wajahnya dikotori darah yang keluar dari luka di kepala akibat tertimpa balok atap. Wajahnya benar-benar mengelam oleh kemarahan.

Gebrokok dan Nenek Lali memilih tidak ikut campur. Mereka menunggu. Demikian pula halnya dengan Legaspati.

“Dasar memang kuntilanak, suka benar ia membuat masalah tanpa timbang-timbang siapa orang yang dihadapinya,” membatin Legaspati.

Dikeroyok empat orang membuat Bocah Kuntilanak kewalahan bukan main. Ia tidak diberi ruang untuk bisa menyerang balas. Kerjanya hanya menghindar dan menangkis.

Bek bak!

“Uhgk!” keluh Bocah Kuntilanak ketika satu kaki berhasil menusuk perutnya yang disusul terjangan di dada dari kaki yang berbeda.

Bocah Kuntilanak terengkang. Dia segera bangun lagi, tapi lawan-lawannya segera memburu lagi dengan serangan yang rapat. Bocah Kuntilanak kian terdesak.

“Aku tidak suka main seperti ini, kalian curang! Awas, nanti aku laporkan ke guruku, biar kalian dijadikan siput jelek! Wek, tidak kena! Kalian banci semua mengeroyok anak kecil! Kalau berani, coba keroyok Nenek Lali dan Gebrokok!” cerocos Bocah Kuntilanak sambil menghadapi serangan yang bertubi-tubi.

Tapi kata-kata Bocah Kuntilanak itu membuat Gelaga Sujo dan ketiga temannya berhenti menyerang.
“Apa kau tidak tahu berurusan dengan siapa, hah?!” bentak Serbak Jala sambil angkat dagunya setinggi kepalanya.

“Hihihi!” Bocah Kuntilanak malah tertawa. Lalu katanya, “Kalian pasti keempat lelaki yang menyusu di susu kambing. Benar, tidak?”

“Hahaha...!”

Meledaklah tawa Nenek Lali, Gebrokok, Legaspati dan keluarga pemilik kedai.

“Benar-benar penghinaan besar bagi orang-orang Tengkorak Langit!” murka Gelaga Sujo. “Bunuh perempuan setan ini!”

Kembali keempat lelaki itu mengeroyok Bocah Kuntilanak.

Tengkorak Langit adalah nama sebuah kelompok yang dipimpin oleh Dewa Tengkorak, seorang tokoh persilatan yang cenderung menyukai kejahatan, asalkan menguntungkan diri dan kelompoknya.
Bocah Kuntilanak langsung terdesak hebat. Namun, pada satu kesempatan.

“Jurus Gebuk Kambing Banci!” pekik Bocah Kuntilanak asal sebut sambil tubuhnya melesat mundur dengan kedua tangan menghentak.

Wuss!

Serangkum angin kencang yang cukup meyakinkan menderu agak keras. Keempat orang Tengkorak Langit itu cepat berlompatan menghindari angin berbahaya itu.

Wurrs!

Tiba-tiba di udara muncul putaran sosok tubuh yang jatuh di tengah-tengah pertarungan, lalu berputar cepat beberapa kali.

Bsesesetss!

Keempat orang Tengkorak Langit yang memasang siaga satu, tiba-tiba bertumbangan dengan leher telah bolong oleh tebusan suatu benda yang tidak terlihat. Keempatnya pun tewas saat itu juga.

Bocah Kuntilanak dan penonton lainnya terperangah takjub tapi tetap siaga. Siapakah gerangan orang maut yang baru datang itu?

Orang itu adalah seorang lelaki tinggi besar bercelana biru mengkilap dengan sabuk lebar berhiaskan logam-logam perak bulut pipih. Rambut gondrongnya sebahu tanpa diikat. Tampangnya seram dengan sorot mata tajam dengan kumis tebal. Tidak berbaju, memamerkan badan kekar berototnya. Kedua lengan besarnya dicekik dengan gelang berwarna kuning, mirip emas. Sungguh penampilan yang gagah. Dia adalah punggawa kerajaan yang bernama Panglima Setan.

“Waw!” desah Bocah Kuntilanak terpukau sambil tepuk tangan sendiri. “Wow! Perkosa sekali! Eh, perkasa sekali!”

Dari sisi selatan datang rombongan prajurit suatu kerajaan, bersenjatakan tombak dan panah. Pasukan yang berjumlah seratus orang itu dipimpin oleh empat pemuda berkuda dan berpakaian pendekar.

Pemuda pertama berparas tidak tampan dengan rambut dikepang tunggal sepanjang tengah punggung. Ada tahi lalat besar di pipi kirinya. Berbaju kuning ketat dan bercelana merah gombrong. Di sabuk kulit lebarnya terdapat puluhan pisau-pisau kecil yang menjadi senjata utamanya. Karenanya, pemuda ini menamakan dirinya sebagai Pendekar Pisau Cilik.

Pemuda kedua berparas lumayan tampan dengan mata yang agak bulat dan alis tebal. Rambutnya diikat dengan pita merah. Berpakaian serba putih mengkilap. Menyandang pedang di belakang badannya. Namanya Wanjaru.

Pemuda ketiga berkulit agak hitam, tapi tampan dan lebih tampan. Berambut pendek. Bajunya hanya rompi putih tanpa kancing, memperlihatkan lengan dan badan berototnya. Celana hitamnya hanya setengah betis. Ia tidak bersenjata. Namanya Aji Lelono.

Pemuda keempat juga tidak tampan. Berambut gondrong sebahu. Memiliki hidung yang tergolong besar dan berkumis tipis. Berpakaian hijau muda. Di pinggang kirinya menggantung dua tombak pendek berwarna merah. Dia bernama Pendekar Tombak Kembar.

“Apa kau kenal denganku, Putri Wilasin?” tanya Panglima Setan.

Membelalaklah mata sipit Bocah Kuntilanak mendengar ia disebut dengan nama Putri Wilasin. Tapi kemudian ia tersenyum lucu kepada Panglima Setan.

“Wah, tentu aku kenal dengan orang perkosa sepertimu. Bukankah adalah kakekku?” kata Bocah Kuntilanak sembarangan, padahal hatinya dag dig dug.

Lelaki besar itu tersenyum sinis. Lalu katanya, “Aku Panglima Setan. Aku ditugaskan untuk menjemputmu!”

“Oh!” Bocah Kuntilanak menggut-manggut sembari senyam-senyum. Ia lalu memanggil, “Legaspati, ke mari!”

Legaspati segera menghampiri Bocah Kuntilanak.

“Ada apa?” tanya Legaspati.

Bocah Kuntilanak berbisik kepada Legaspati, “Semalam kau mimpi apa?”

“Mimpi memelihara ayam betina,” jawab Legaspati sembarangan.

“Sepertinya ayam betinamu sudah datang, namanya Panglima Setan,” kata Bocah Kuntilanak.

“Kalian tidak usah berbisik!” hardik Panglima Setan. “Putri Wilasin, kau memilih mati di istana atau mati di sini?”

“Hihihi...!” Bocah Kuntilanak malah tertawa nyaring sambil menepuk bahu Legaspati. Lalu katanya kepada pemuda itu, “Orang itu benar-benar kurang ajar, menganggap dirinya malaikat maut.”

“Rupanya pilihanmu mempercepat kematianmu, Putri Wilasin!” kata Panglima Setan lalu tiba-tiba melesat menyerang.

“Hah!” kejut Legaspati, karena Panglima Setan sudah ada di depan mereka.

Buk! Plak!

Luar biasa dan tidak terduga. Tahu-tahu perut Bocah Kuntilanak ditendang keras dan Legaspati mendapat kibasan tangan di lengannya. Tubuh Bocah Kuntilanak terlempar ke belakang sejauh tiga tombak dan Legaspati terbanting sejauh dua tombak. Bocah Kuntilanak meringkuk kesakitan, ada darah merembes di celah bibirnya.

“Uh, serasa remuk tulang lenganku. Tenaga orang itu kuat sekali,” batin Legaspati kesakitan seraya tangan kirinya memegangi lengan kanannya.

“Legaspati jelek!” panggil Bocah Kuntilanak sambil bangkit mengerenyit kesakitan.

“Hoi!” sahut Legaspati seraya bangkit pula.

“Ayam betinamu ternyata terlalu banyak makan cacing!” teriak Bocah Kuntilanak.

“Itu bukan ayam, tapi kerbau. Coba kau tanyakan padanya, apakah dia serius memukul kita!” sahut Legaspati mengimbangi ulah Bocah Kuntilanak.

Bocah Kuntilanak lalu bertanya kepada Panglima Setan, “Kerbau, apakah kau serius ingin membunuhku?”

“Apa kau sudah siap menerima mautmu, Putri?” Panglima Setan malah bertanya.

“Kalau begitu, aku harus bersikap sedikit lebih tua. Hihihi!” kata Bocah Kuntilanak lalu melesat cepat sambil tertawa.

Serangan Bocah Kuntilanak sangat bertubi-tubi terhadap Panglima Setan. Namun, Panglima Setan bisa mementahkan semua agresi Bocah Kuntilanak. Padahal itu adalah gerak jurus tercepat yang mampu dilakukan Bocah Kuntilanak.

Melihat kesia-siaan serangan Bocah Kuntilanak, Legaspati lalu melompaat masuk ke dalam pertarungan. Dua lawan satu.

“Kalau seperti ini terus, bisa mati kelelahan,” membatin Legaspati.

“Kalian memang tidak berguna!” kata Panglima Setan.

Baks! 

Ketika pada satu kesempatan Bocah Kuntilanak dan Legaspati bersamaan menyerang, Panglima Setan malah menyongsong serangan itu dengan gerakan yang lihai. Kedua teapak tangan Panglima Setan, mendarat keras di dada Bocah Kuntilanak dan Legaspati. Leduanya terjengkang keras dengan darah sedikit menyembur dari dalam mulut. Meski tidak remuk, tapi dada mereka serasa remuk.
“Apa ada cara untuk kabur?” tanya Bocah Kuntilanak berbisik kepada Legaspati.

“Kita sudah dikepung prajurit,” kata Legaspati lemah.

Para prajurit berseragam kuning-kuning yang bersenjatakan tombak di tangan, sudah mengepung arena pertarungan. Karenanya, rasanya sulit bagi Bocah Kuntilanak untuk melakukan jurus “Langkah Seribu”.

“Pegang tanganku!” suruh Bocah Kuntilanak kepada Legaspati.

Legaspati menurut. Dipegangnya tangan kiri Bocah Kuntilanak dan mereka bangun bersama-sama. Ditatapnya sejenak para prajurit yang mengepung.

“Lompat!” seru Bocah Kuntilanak.

Keduanya serentak lompat ke udara lalu tubuh mereka turun kembali.

Bless!

Namun, ketika keduanya kembali menjejak bumi, tiba-tiba tubuh keduanya berubah menjadi gumpalan asap kuning lalu buyar menghilang. Terkejut Panglima Setan dan yang lainnya.

Legaspati merasakan melesat di sebuah alam berwarna kuning. Ia menahan nafas, karena memang tidak bisa bernafas di alam berwarna kuning itu.

Sementara itu, Panglima Setan dan para prajurit tidak bisa melihat ke mana arah kaburnya Bocah Kuntilanak dan Legaspati. Panglima Setan cepat menggunakan ilmunya yang bisa menembus alam makhluk gaib, bisa jadi Bocah Kuntilanak dan Legaspati masuk ke alam gaib. Namun, tidak ada tanda-tanda.

Clap!

Tiba-tiba Bocah Kuntilanak dan Legaspati muncul begitu saja di tempat yang cukup jauh dari lokasi pengepungan. Demikianlah kehebatan ilmu Tembus Kabut Maling milik Bocah Kuntilanak. Mereka bisa berlari di dalam tanah dengan cara khusus.

“Itu mereka!” teriak seorang prajurit yang melihat keberadaan Bocah Kuntilanak dan Legaspati.

“Lari!” teriak Legaspati sambil berkelebat dengan tetap menggandeng tangan Bocah Kuntilanak.

Namun, gerak keduanya harus tertahan, karena tiba-tiba ada empat tubuh bersaltoan di atas mereka lalu langsung turun ke bumi dengan formasi mengepung. Empat sosok itu tidak lain adalah keempat pendekar pimpinan para prajurit.

“Kalian tidak akan bisa lari ke mana-mana!” seru Panglima Setan seraya berkelebat ke lokasi pengepungan.

“Kuntilanak bodoh! Kenapa kau muncul tidak di sebelah sana saja!” maki Legaspati menyesal.

“Aku tidak kuat menahan nafas, Jelek!” dalih Bocah Kuntilanak. Lalu katanya kepada Panglima Setan, “Hei, Panglima Kerbau! Bagaimana kalau Legaspati jelek saja yang kau bunuh? Kalau membunuh aku, tidak ada bahagianya. Tapi kalau membunuh Legaspati jelek, pasti mukanya tambah jelek, jadi ada gunanya. Bagaimana?”

“Berbicaralah seperti bebek sebelum aku cabut nyawamu!” kata Panglima Setan dengan delikan mata yang menciutkan jantung.

“Bukan bebek, tapi burung dara yang cantik. Mengerti?” kata Bocah Kuntilanak sambil senyum-senyum, seolah mautnya masih seratus tahun lagi, meski “malaikat maut” sudah berdiri di hadapannya.

Legaspati berbisik kepada Bocah Kuntilanak, “Lawan kita kebanyakan, jadi bersiaplah! Heaaa!”

Teriakan Legaspati disusul dengan bersinar merahnya tubuh pemuda itu. Kondisi itu membuat Panglima Setan dan keempat pendekarnya bersiaga. Legaspati lalu menghentakkan sepasang lengannya ke arah Wanjaru.

Psezz!

Sinar merah panjang bergelombang seperti lekukan keris melesat cepat. Wanjaru memilih berkelebat cepat pindah tempat mengosongkan posisinya. Kecepatan sinar ilmu Hasrat Maut nyaris menyambar pinggul Wanjaru.

Wess! Wuss!

Saat yang bersamaan, sambil melesat cepat bersama Legaspati, Bocah Kuntilanak sempatkan mengirim angin pukulan keras ke arah Pendekar Pisau Cilik yang mau menyerang.
Pendekar Pisau Cilik berkelebat jauh-jauh menghindari angin maut itu.

Bluaars! Bleduarr!

Angin maut Bocah Kuntilanak membongkar tanah kosong yang cukup besar dan menyusul hancur sebuah batu besar yang dihantam oleh sinar merah kiriman Legaspati yang tadi menyerang Wanjaru.
Kondisi itu membuat Bocah Kuntilanak dan Legaspati berhasil lolos dari kepungan.

“Kejaaar!” teriak Panglima Setan.

Keempat pendekar bawahan Panglima Setan cepat melesat mengejar Legaspati dan Bocah Kuntilanak yang tertawa nyaring terkesan mengejek. Panglima Setan sendiri melesat laksana anak panah.

“Wow! Cepat sekali!” pekik Bocah Kuntilanak saat melihat ke belakang.

Memang Panglima Setan dan keempat pendekarnya sangat cepat melesat, menunjukkan ketinggian kesaktiannya. Sehingaa dalam waktu singkat, jarak mereka sudah dekat.

“Hahaha! Siapa yang mau mampus?!” teriak Legaspati yang didahului tawanya, seolah menikmati dirinya diburu.

Legaspati mengeluarkan sebuah kipas merah membara dan sedikit memancarkan sinar redup, sebagai tanda benda itu memiliki kesaktian. Namanya Kipas Badai Neraka. Sambil terus melesat kabur bersama Bocah Kuntilanak, Legaspati mengibaskan kipasnya, memberi angin ke arah belakang.

Blesets! Bdaar! Wuss!

Dari kipas itu berkiblat sinar merah yang menghancurkan tanah. Untuk Panglima Setan saat itu berada di atas, sehingga kiblatan sinar merah itu lewat di bawah kakinya. Sementara keempat pendekar dengan cepat menahan pengejarannya dan berkelebatan ke berbagai arah menghindari maut dari kipas itu.

Namun, tidak sampai di situ. Setelah kiblatan sinar merah, menyusul angin panas yang menderu keras, membakar apa-apa yang dilaluinya.

Betapa terkejutnya Panglima Setan, ia tidak menyangka ada angin sebesar dan sepanas itu. Ia tidak mungkin mengelak pergi, karena posisinya di udara. Jalan satu-satunya adalah mengerahkan ilmu Lapisan Kerak Bumi secara mendadak. Maka saat itu juga, tubuhnya dilapisi oleh sinar merah gelap. Meski terlindung dari proses pembakaran oleh angin kipas, tapi angin tetap menghempas tubuh Panglima Setan.

Berbeda dengan keempat pendekar lainnya. Mereka menghindar dengan cara masuk ke dalam tanah seperti batu masuk ke dalam air. Akibatnya, tanah lapang itu menjadi lautan api sejauh angin Kipas Badai Neraka menjangkau. Semua yang mendapat belaian angin itu terbakar, termasuk dua pohon yang ditumbangkannya. Beruntung angin itu tidak mengarah ke posisi para prajurit berkumpul dan posisi rumah dan kedai.

Tubuh Panglima Setan jatuh berguling-guling di bumi dengan tubuh tetap terlapisi sinar ilmu Lapisan Kerak Bumi.

Mereka yang melihat dari kejauhan, hanya bisa terpukau ngeri melihat kekejaman Kipas Badai Neraka.

Sementara itu, Bocah Kuntilanak dan Legaspati sudah tidak terihat keberadaannya.

Bless! Bless! Bless! Bluar!

Satu demi satu pendekar anak buah Panglima Setan bermunculan dari dalam bumi seperti ledakan sumur minyak. Pakaian mereka lumayan kotor oleh tanah.

“Pisau Cili, Lelono, cepat ke mari!” perintah Panglima Setan yang sedang duduk bersila dengan warna kulit merah matang bersimbah keringat. “Cepat bantu aku dengan tenaga dingin kalian!”

Pendekar Pisau Cilik dan Aji Lelono segera ke belakang tubuh Panglima Setan. Keduanya segera menempelkan satu telapak tangannya di punggung pemimpinnya. Tenaga dalam mereka disalurkan. Memang hanya keduanya yang memiliki tenaga dalam dingin di antara mereka.

Secara perlahan, warna kulit wajah dan tubuh Panglima Setan kembali ke warna aslinya, menandakan bahwa hawa panas yang menyerap masuk ke dalam tubuhnya telah sirna. Melihat upayanya berhasil, Pendekar Pisau Cilik dan Aji Lelono menghentikan proses bantuan tenaga dinginnya dan melepas punggung Panglima Setan.

“Senjata itu luar biasa kesaktiannya. Aku harus mendapatkannya. Kita kejar mereka!” kata Panglima Setan.

(Bersambung: Misteri Gadis Buruan 3: Kuntilanak Minta Ikut)

Senin, 01 Februari 2016

Sudan Tolak Hubungan Dengan Iran dan Israel

Pemerintah Sudan menolak normalisasi hubungan diplomasi dengan Iran dan Israel. (Gambra: dok. LiputanIslam.com)
Sebagian harian nasional Sudan pada Senin (1/2) menyoroti konsistensi Presiden Omar Al-Bashir tidak akan membuka normalisasi hubungan diplomasi dengan Iran dan Israel.

Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Kahrtoum melaporkan Senin (1/2), harian seperti Alwan, Akhir Akhbar, Asshohafah dan lainnya memberitakan, alasan Pemerintah Sudan kepada Iran lebih ditekankan kepada isu penyebaran aliran paham yang dianut mayoritas warga Iran, yaitu Syiah.

“Kami tidak paham akan aliran Syiah, akan tetapi kami dan masyarakat Sudan menganut Sunnah selama ini, oleh karena itu cukup bagi kami akan konflik yang terjadi pada 2014 lalu,” kata Al-Bashir saat berada di Addis Ababa, Ethiopia, Ahad lalu.

Sikap keras Pemerintah Khartoum terhadap paham Syiah sudah terjadi sejak September 2014 yang berujung dengan penutupan Pusat Kebudayaan Iran di seluruh negeri dan pengusiran atase kebudayaan Iran dan staf pusat mereka dari Sudan.

Langkah tegas itu diambil karena ada indikasi kuat Kantor Pusat Budaya Iran di Khartoum dan di sebagian wilayah di Sudan menyebarkan paham Syiah.

“Kami memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, dan mereka harus meninggalkan seluruh aktifitasnya di Khartoum, ketika kedutaan Arab Saudi yang berada di Teheran diserang oleh pengunjuk rasa,” kata Presiden merujuk pada serangan demonstran Iran terhadap Kedutaan Arab Saudi di Teheran pada 2 Januari lalu.

Sudan sendiri, membuka kedutaannya di Teheran pada 1974, ketika Sudan dipimpin oleh Presiden Jaafar Muhammad Al-Nemieri.

Setelah terjadi Revolusi Iran, kedutaan Sudan ditutup kembali pada 1979. Dibuka kembali pada masa pemerintahan Presiden Ahmed Al-Mirghani dan Perdana Menteri Sadiq Al-Mahdi pada 1989. Hingga akhirnya berujung pada penutupan dan penarikan Duta Besar Sudan di Iran dan pengusiran Duta Besar Iran di Khartoum pada awal 2016. 

Adapun dengan Israel, dikarenakan rezim pendudukan itu selalu membuat kejahatan kemanusian dan penodaan terhadap bangsa Palestina, yang menurut Al-Bashir memang harus diadili di Mahkamah Internasional.

Hal itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Negara Sudan Hassabu Mohammad Abdalrahman dalam pidatonya di acara dialog dengan seluruh elemen politik di Khartoum, Ahad malam. 

(Sumber: MirajNews.com/id)

Tentara Sudan Selatan Dituduh Membunuh Lemas 50 Warga Sipil

Peerang saudara di Sudan Selatan membuat 1 juta warga mengungsi dan 4 juta terancam kelaparan. (Foto: EPA)
Komisi pemantauan gencatan senjata mengatakan, pasukan Sudan Selatan setidaknya membunuh 50 orang dengan cara membuatnya lemas di dalam kontainer dalam kondisi panas terik.

Insiden ini adalah salah satu dari beberapa daftar contoh pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pasukan kedua faksi yang bertikai di negara itu.

Pelanggaran itu diuraikan dalam sebuah laporan yang disusun oleh Pemantauan Bersama dan Komisi Evaluasi (JMEC) yang dibuat publik pada KTT Uni Afrika (AU) Ahad (31/1) lalu.

"Sekitar 50 orang mati lemas dalam sebuah kontainer sekitar 22 Oktober. Investigasi berlanjut.  Yang bertanggung jawan adalah pasukan Pemerintah," kata laporan itu dalam bab judul "pembunuhan warga sipil di Unity State", Al Jazeera memberitakannya.

Meskipun pada Agustus 2015 ada kesepakatan damai, tapi pertempuran terus berlanjut di negara itu, dan konflik sekarang melibatkan beberapa milisi yang menurut laporan AU didorong oleh agenda lokal dan serangan balas dendam.

Di Sudan Selatan, kontainer logam sering digunakan sebagai sel penjara darurat. Suhu di utara Unity State teratur di atas 40 derajat Celcius.

Bulan lalu, sebuah panel ahli PBB mengatakan Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan pemimpin oposisi Riek Machar harus menghadapi sanksi atas peran mereka dalam perang.

Kepala JMEC Festus Mogae, mantan Presiden Botswana mengatakan, AU memiliki kewajiban untuk menanggapi tuduhan yang dimasukkan dalam laporan.


Kedua sisi pemerintah dan oposisi telah dituduh melakukan tindak pembantaian etnis, merekrut dan membunuh anak-anak serta melakukan pemerkosaan secara luas, penyiksaan dan pemindahan paksa penduduk untuk "membersihkan" daerah lawan mereka.

(Sumber: Al Jazeera)

Puluhan Warga dan Anak Desa Nigeria Dibakar Hidup-Hidup

Desa Dalori di Maiduguri, Nigeria, hangus dibakar oleh serangan Boko Haram. (Foto: EPA)
Setidaknya 86 orang, termasuk sejumlah anak-anak, tewas dalam serangan sekelompok orang bersenjata di sebuah desa di timur laut Nigeria, demikian menurut pejabat.

Saksi mata mengatakan, penyerang yang diduga kuat adalah kelompok Boko Haaram mengebom rumah-rumah dan menembaki warga sipil pada Sabtu malam di desa Dalori, membuat mayat-mayat bergelimpangan di jalan karena ditembak dan terbakar.

Para penyerang juga berusaha menyerbu sebuah kamp dekat Dalori, rumah bagi sekitar 25.000 pengungsi, tetapi dipukul mundur oleh tentara.

Saksi mata mengatakan, mereka mendengar jeritan anak terbakar sampai mati di saat pondok dan rumah rata dengan tanah. Mi’raj Islamic News Agency (MINA) memberitakannya.

Koordinator Wilayah Badan Manajemen Darurat Nasional Mohammed Kanar mengatakan kepada kantor berita Associated Press, sebanyak 86 mayat telah dikumpulkan hingga Ahad (31/1) sore.

Staf Rumah Sakit Negeri Spesialis di Maiduguri mengatakan, sebanyak 62 orang lainnya dirawat karena luka bakar. Maiduguri adalah kota terbesar di timur laut Nigeria, sekitar 10 km dari Dalori.

Pihak tentara mengatakan, pasukan Nigeria awalnya tidak dapat melawan para penyerang. Penyerang baru mundur setelah bala bantuan tiba dengan persenjataan berat.

"Ketika mereka (warga) melihat penembakan, mereka memberitahu kami. Saya memberitahu tentara," kata Lawana Geti, Ketua Kondugua, kelompok keamanan desa.

"Dan ketika tentara datang, Boko Haram bergegas keluar dari desa," katanya.

Kawasan Lake Chad yang berbatasan antara Nigeria, Chad, Kamerun dan Niger, sering ditargetkan oleh Boko Haram. Karenanya keempat negara telah membentuk koalisi bersama Benin untuk melawan kelompok itu.

Perang antara Boko Haram dan pemerintah Nigeria telah menewaskan 20.000 orang dalam enam tahun dan memaksa 2,3 juta orang mengungsi dari rumah mereka.


Badan Anak-Anak PBB mengatakan, ada satu juta anak telah dipaksa keluar dari sekolah.

(Sumber: MirajNews.com/id)